Powered By Blogger

Selasa, 31 Mei 2011

Tanpa Judul 2

Sebiru langit diangkasa

yang memantul kebumi
mengingatkan masa lalu
menorehkan rindu dan duka


Seolah dermaga tepian pantai
tempat kapal berlabuh
menepi layar pautan hati
jatuh menghantam batu karang
goyah dihempas badai gelombang


Ada risau dibalik cerita
masa yang lalu bayang kaca
benci rindu merasuk kalbu
tak ada kata mengungkapkannya


Biar kata saling berpeluk
telaga berkumpul kalbu
tak senyawa
hancur dilautan kelam
biar membelai indah dalam puisi


Ada hasrat untuk memiliki
tetapi cinta dirundung sepi
catatan sekedar tulisan
dari rasa yang nyata
"Kemana kau tau isi hatiku,



ketika kau lihat isi bola mataku?"


Jangan dekatkan matahari


dingin biar ku sendiri


jiwa yang sepi


...mulai terabaikan...


Seperti mudar langit ku


biru kelabu...






Indah begitu tenang


terasa terbuai alunannya...

Senin, 30 Mei 2011

"Air mata melukiskan kepedihannya."



bodohnya cinta
melihat mata buta
mendengar tuli telinga
meraba mati rasa
"Resah jiwanya memaksa rindu."
lambat waktu berganti
luka mengendap dihati
redup menepi
getir takdir sendiri

"Mengapa benar ia sadar cinta yang salah."

Tanpa Judul

Ilhami jiwanya

pergilah ia
tak sia-sia


Atap rumah hilang
dari do'a-do'a
harga yang terbeli
pantaslah dirinya


Yang samar yang gelap
turun dari pangkuan
menembus hayalan


Pergilah ia
sebelah lengan
prosa jalanan


Semusim berbunga
buyar seketika
mimpi lepas lagi


Memisahlah ia
dari dada bumi


Ruh tenggelam
serupa gumpal awan
ditelan kegelapan
dijerat keindahan mimpi


Biar hujan turun
membasahi note cerita
pergilah sepeninggalnnya
hingga senja dihati
Ingatkanlah ia
roda nasib berputar


Pergilah ia
jalannya sendiri
tajam waktu berlalu


Jangan lupa mengingat dirinya
dirinya tak mati
dikepalan tangannya
dirinya hidup

Minggu, 29 Mei 2011

Aku & Kamu, Kita?

Malam menelantarkan ku

tak ku temukan ada mu
lelah ku merebah


tirai malam kaburkan mataku
rasa ku lemah


malam mengoyak hasrat ku
tersemat pembaringan sunyi
tak pernah menyentuh
tak pernah mengusapmu


nafas ini, kosong...


tiada terbuka pintu mu
tiada senyum siang malam ku
tiada merangkul hati mu
tiada cinta dibenak mu


dua kutub terpisah jauh
buyar dalam tatapan hati


cerita hanya keakraban
keakraban kini bersemai rindu

Sabtu, 28 Mei 2011

Berlalu Nantinya

Lewat puisi ini kita bicara

dengan hati terbuka
membuka belunggu
melepaslah segala
walau kan datang gelap
mencari yang hilang
sesuatu kini kita temukan
ada derita dan bahagia
walau ternyata mimpi
suara hati apa adanya


langkahku kan kembali
walau berat untukmu mengerti
mengalirlah air mata jadi telaga
tempat rindu tersimpan


langkah ku pergi sendiri
mengendapkan rasa
menepi darimu
meredupkan hatiku
badai belum berlalu
tak mungkin ku berlabuh
terasa lelah...
tak lepas jerat mimpi indah
lemah tak berarti

Jumat, 27 Mei 2011

Entah

Entah apa yg dikatakan ayam dipagi hari

ketika aku masih terjaga
ketika fajar mulai berjubah
ketika ku merasa lelah berharap


Entah kata apa yg kau bisikan
membuatku terkulai disudut hatimu
ketika ku pasrah dengan keadaan

ketika ku rasakan samar kasih sayang
Entah mengapa aku tak pernah merasa jemu
jika ku mendengar suaramu
ketika ku dengar ungkapan hati
ketika ku rasa kasih saling memberi


Rembulan hilang entah kemana
tapi cinta hadir dari sudut pandang berbeda
Entah ada apa dengan hati ini
sulit untuk mengungkap semua
ketika bibir tetutup untuk berbicara
ketika ku rasakan cinta membelai indah


Naifkah aku didalam kata-kataku
tapi kasih sayang mengungkap puisi cintanya


Entah mengapa aku menyayangimu
helai udara diam disekitar ku
ketika hariku menelusup dengan harapan
ketika pilunya rindu menusuk jiwaku
ketika aku tak sepenuhnya bisa memilikimu
Aku terhanyut dalam mimpiku
tapi setulusnya aku mecintaimu....


Entah mengapa aku sayang padamu...

Kamis, 26 Mei 2011

Kabar Desa

Tanah subur dibawah langit biru

begitu indah setiap musimnya
angin berhembus
menembus ladang padi
burung sawah bersiul
burung ladang bernyanyi
mengundang hujan turun

Malam indah bagai pagi
tersebar gelak senyum tawa
begitu indah dan nikmat karunia
burung dara memadu asmara
burung merpati mengikat cinta

Rabu, 25 Mei 2011

Penggalan Peristiwa

Lewat puisi ia tuliskan peristiwa

yang tak mulus jalanya
sejauh mata memandang
seluas samudra membentang
arak-arakan halulalang melintang
matahari menghangati kasihnya
hati yang tak tersentuh cinta
Kalimat yang bermuara
dari ia ketulusan kedua mata
mengeja batang pohon patah
hingga tumbuh kembali cabang rantingnya
dan juga air mengalir
sampai cerita yang tak tuntas oleh peristiwa
keindahan ia tersenyum sembunyikan duka
Ia menuliskan peristiwa
syair puisi tercipta indahannya
menyejukan para pembaca
sesampainya ia benar-benar hidupkan duka
Dari perjalanan peristiwa
tercipta harmoni karya
lembut bait-bait aksara
tepis bintik-bintik air mata
keruh hatinya terluka
Ia... hatinya tak tersentuh cinta

Selasa, 24 Mei 2011

(Jika) Sebuah Akhir

irApakah benar apa kata mereka ?
apakah mata terlalu buta untuk mencari jalan
takut untuk mengetahui
warna awan hati ini

Terlahir kedunia nyata
melihat melalui mata sendiri
mencobalah untuk mengerti
tak ingin kehilangan apa yang telah dimiliki
wajar untuk bermimpi
siapa yang dapat menyangkal
jika mimpi adalah salah satu cara terbaik untuk hidup
antara kebenaran dan kebohongan

Menembus permukaan
melihat siapa diri ini
begitu ketakutan membuat jiwa layu
pata titik yang menjadi jalan
menjadi perubahan digenggaman
bahwa ini bukan sebuah akhir

Kapan akan datang kedunia
memecah rantai
terlihat oleh mata
terdengar oleh kebisuan
sebelum hilang yang telah termiliki

Waktu membawa mimpi-mimpi
terlihat keajaiban
terlihat kengerian
semua hanya cerita
kebersamaan tak akan selamanya
sampainya tak ada air mata

Minggu, 22 Mei 2011

Yang hitam bukan persoalan
kenapa yang putih dipersoalkan...
wajah murung ungkapan nanti
hati lesuh janji tak pasti
nasib hitam tak jadi soal
nasib putih dijejal persoalan
sebab putih nampak dipandang mata
sedang hitam hilang diketiak penjagalnya
putih yang bertanya
dikekang setan mengangkan
jawablah untuk satu rasa
hitam tak membagi tempat
tiada lagi pijakan kaki
hitam bersua mengisi kantong pribadi
bukan gurau teman dikedai kopi
diterima untuk putihmu sisa bencana erosi

Sabtu, 21 Mei 2011

Malam, Kunang

...
Seekor kunang terbang melayang-layang
kerlap-kerlip bercahaya
malam disebuah desa
...
Mata nampak terpesona
saksikan keadaan yang ada
malam pinggiran kota


...
Gardu perempatan tempat sandaran
sang perkasa sinari batinnya
malam ujung jalan


...
Lambat laju pelayaran
musim penghujan
butiran embun jadi teman
malam tempat mencari pegangan


...
Kunang terbang menari-nari
membuat bunga-bunga terpatri
malam pencarian arti

Jumat, 20 Mei 2011

(Bukan) Bunga Namanya

" Aku mengenal baik pribadinya. "

bunga sepatu malu-maludaunnya hijau

warna merah menyala

saat senja meminang kepadanya



" Aura yang mempesona, aku tak luput sekejap memandangnya. "

bukan melati putih

sederhana

merekah anggun senyumnya

hanya ketulusan

 
" Ternyata, si Empunya memilihnya, dari pilihan yang sementara. Syarat tua si Empunya meminangkannya. "

maka mawar disandangnya

melingkupi harga diri

 
yang dikenal

yang terlupakan


" Seandainya dulu ku tak pernah mencintainya. Mungkin semua berbeda dan tak akan pernah ku rasakan luka. Ku sadar, cintanya bukan untukku... "

tak sama janjinya...

keangkuhan emosi, bayang-bayang keinginan memiliki

Rabu, 18 Mei 2011

Menunggu Akhir


Dimana awal
dimana akhir

hanya gerak tanpa suara
daun-daun yang bergoyang
tapi ku mendengar nada dan irama
meskipun terdengar samar
sesuatu yang tak bisa ku rasakan

Dengan angin yang menghembus diudara
seperti memegang sesuatu yang tak ada 
karena hidupku merasa belas kasihan
dari rasa sakitdan rasa takut
sampainya mati baru terlupakan
dan menghilang 

Kapan akhir datang
berharap ku punya daya untuk berdiri
bukan yang terekayasa
bukan yang tersandiwara

Lingkar cayahaya
berputar-putar dipikiran ku
banyak hal tak terkatakan

Bagaimana ku melanjutkan
jika berbohong aku tak tau merasakannya

Ku lakukan untuk sesuatu yang baru
berpegang pada apa yang tak ku punya 

Duduk di sebuah ruangan kosong
bukan untuk masa lalu
ku pikir itu merasa benar tetapi yang benar salah 
semua terperangkap dalam mata badai 
dan mencoba untuk mencari tahu bagaimana rasanya keindahan

Melati Putih

Melati putih dihalaman
enggan berbunga
nampak layu daun-daunnya

Kamboja disampingnya
teman hidup melihat purnama

Melati putih tanahnya kering
berselimut debu
angin bertiup oleh jalanan 

Melati putih ntah kan bersemi
nampak tua
ranting mengring


Kawanku Sendiri Tak Berkawan

Kawanku sendiri tak berkawan
disuasana hati tak bersahabat
ditikam waktu mengolok sesak meradang...
" ...Cahaya rembulan hilang, kepada siapa ku berharap? "

Kawanku sendiri tak berkawan
pada malam yang tak pernah diundang
pada sudut kelam...
" ...Aku hanya sendiri, terasa tajam belati menusuk hati, terhempas ku terjaga dari mimpi pada titik sepi. "

Kawanku sendiri tak berkawan
bahwasanya terasa bayang kemauan
membawa suara kata hati berambisi memiliki...
" Dahaga ku rasa kini, ketika hati rasa dan jiwa serta segala yang tersembunyi mulai bergetar. Bersama malam dan waktu yang mulai berlalu. "

Kawanku sendiri sampai nanti
menyedu kopi menghisap rokok menghembuskan harapan...
" Aku resah seperti ini, bait-bait kata mengasawi gerak hati. Kawan, keindahan berserakan diseret gelombang samudra. Kabut sunyi merayapi, bayangmu pergi melepas pertalian hati. Aku dibuat diam sinar matamu. Kenanganmu belum bisa ku lupakan.
 

Minggu, 15 Mei 2011

Celoteh Kawanku

" Waktu hampir menunjukan anggka dua pagi. Sedang kita hanya duduk berdiam melihat bulan yang cahayanya setengah hilang tertutup awan. "
Kawanku angin malam
menghempas perlahan
dititik lingkar kesunyian.

" Malam semakin larut. Kabut menuturi lembah, saat warnanya tak bisa berbahasa. Pandangan kita ada pada angan, didalam jiwa dan didalam hati. Disaat rasa terjalin antara kita. "
Kawanku gelap malam
dipesisir pantai melepas bebas pandangan
berpeluh lepaskan beban
memaksa memutar haluan.

" Kita menunggu pengantin fajar bermahkota. Bermimpi mewujudkan kenyataan. Dari hidup untuk kehidupan, walau dalamnya kegelapan. "
Kawanku menunggu terjaga
bercumbu putik-putik bunga
malu agaknya...

" Tunggu sampai mendekat matahari, untuk kita tak merasa sendiri. Andainya sama, rubah terang biru langit kelabu dihati. "
Kawanku ku temani
sendiri tak mampu beranjak pergi
tak lagi ada bias pelangi.

Penantian dari mimpi tak kembali
jelas bayangan masih melekat
dari jalan yang tertinggal
dari kisah yang terkenang
menentukan arus arungi mimpi-mimpi...

Sabtu, 14 Mei 2011

Kawanku (Bukan) Teman Sesaat

Kawanku menunggu hujan reda
ditipu keadaan yang tak pernah bersahabat
ditempat mereka mengisi waktu luang...
" Ia (Perempuan) berkata padaku. "Aku menunggu kekasihku datang, jadilah teman sesaatku..." Seketika cerita menjadi api unggun menghangatkan jiwa yang kedinginan. ;

Kawanku masih menunggu hujan reda
dilihat embun berkaca
dilahan sawah petani tua...
" Api unggun sisa bara, lalu berubah menjadi abu. Kehangatannya hanya sesaat. Ia (Perempuan) kembali dipelukan kekasihnya. "

Kawanku resah menunggu hujan tak jua reda
rokok ditangan mulai membeku
ditiup cuaca musim dingin tak pandang siapa...
" Mereka (Perempuan) pernah datang padaku, meminta ku merasakan hatinya. Para kekasihnya tiba, kembalilah mereka dipelukan para kekasihnya."

Kawanku pulang disisa hujan
langkah biasa
suasana senja sederhana...
"Yang tulus tak akan pernah ada, kecuali Dia. Yang menyempurnakan sesaat terhias, tapi tak pernah satu. Yang ku simpan rasa dihati, tak akan ada yang mengerti."

Jumat, 13 Mei 2011

Cerita Seorang Kawan

Cerita seorang kawan ditengah malam.
Mengungkap tanya dikepala yang belum bisa dipahami.
"Aku bertanya kepada diri sendiri, mengungkap isi dibenakku, benarkah ia tulus memilihku?
Aku memang coretan disudut tempat sampah, yang pantasnya dipandang sebelah mata."

Cerita seorang kawan di ujung tikungan jalan. 

Yang sudah terbiasa dicibir kupu menelan madu.
"Aku memilih sendiri, jika berkawan hanya membuatku tersakiti. Sombong bertingkang didalam istana, tak segaris tubuh dekil didalam papan merayap menjerit kelaparan. Tak pantas disandingkan."

Cerita seorang kawan membagi sebatang rokok. 

Yang terakhir.
"Ku memilih ditinggalkan, jika bersamanya adalah lelucon pelengkap deritaku.
Bukan satu alasan persoalan tanpa kasihan, menginjak-injak hak orang sesukanya. Diluar mawar memikat, tak sadar congkak hatinya."

Cerita dari seorang kawan.

Tersisa harapan didepan pintu.
"Semoga suaraku didengarkannya, walau kebodohan menjadi hiburan dan tingkah unggah-ungguh hanya permainan. Ku titip salam untukmu, bukan kata mutiara berupa sajak puisi, teriakan membosankan yang menggema dari goa kemunafikan..."

Dari seorang kawan, untuk kawan tak berkawan.

Kamis, 12 Mei 2011

Sandaran Hati Seorang Kawan

Sandaran hati seorang kawan.
Didekap rokok larut dalam setiap hisapannya...
"Rasa ini terasa terabaikan, kata-kata meluluh patah sebagai sandaran. Sampai saat cerahnya hari terisi kembali.

Sandaran hati seorang kawan.

Tersisa putih abu yang terbuang...
"Rasa ini hanyalah pecundang. Kupu hitam enggan memijak sebab bulir embun hilang. Sepasang merpati bercumbu dibalik awan... iri ku melihatnya."

Sandaran hati untuk seorang kawan.

Terangkum didalam sebuah bungkusan
terselip diatas daun telinga dan terpancar dari sisa air mata.

Sandaran hati untuk seorang kawan.

Meratap relung hidup sepi sendiri,
lepaskan rasa tinggalkan masa dulu yang rapuh
menggugah ketakutan menatap keindahan.