" Waktu hampir menunjukan anggka dua pagi. Sedang kita hanya duduk berdiam melihat bulan yang cahayanya setengah hilang tertutup awan. "
Kawanku angin malam
menghempas perlahan
dititik lingkar kesunyian.
" Malam semakin larut. Kabut menuturi lembah, saat warnanya tak bisa berbahasa. Pandangan kita ada pada angan, didalam jiwa dan didalam hati. Disaat rasa terjalin antara kita. "
Kawanku gelap malam
dipesisir pantai melepas bebas pandangan
berpeluh lepaskan beban
memaksa memutar haluan.
" Kita menunggu pengantin fajar bermahkota. Bermimpi mewujudkan kenyataan. Dari hidup untuk kehidupan, walau dalamnya kegelapan. "
Kawanku menunggu terjaga
bercumbu putik-putik bunga
malu agaknya...
" Tunggu sampai mendekat matahari, untuk kita tak merasa sendiri. Andainya sama, rubah terang biru langit kelabu dihati. "
Kawanku ku temani
sendiri tak mampu beranjak pergi
tak lagi ada bias pelangi.
Penantian dari mimpi tak kembali
jelas bayangan masih melekat
dari jalan yang tertinggal
dari kisah yang terkenang
menentukan arus arungi mimpi-mimpi...