Powered By Blogger

Selasa, 24 Mei 2011

(Jika) Sebuah Akhir

irApakah benar apa kata mereka ?
apakah mata terlalu buta untuk mencari jalan
takut untuk mengetahui
warna awan hati ini

Terlahir kedunia nyata
melihat melalui mata sendiri
mencobalah untuk mengerti
tak ingin kehilangan apa yang telah dimiliki
wajar untuk bermimpi
siapa yang dapat menyangkal
jika mimpi adalah salah satu cara terbaik untuk hidup
antara kebenaran dan kebohongan

Menembus permukaan
melihat siapa diri ini
begitu ketakutan membuat jiwa layu
pata titik yang menjadi jalan
menjadi perubahan digenggaman
bahwa ini bukan sebuah akhir

Kapan akan datang kedunia
memecah rantai
terlihat oleh mata
terdengar oleh kebisuan
sebelum hilang yang telah termiliki

Waktu membawa mimpi-mimpi
terlihat keajaiban
terlihat kengerian
semua hanya cerita
kebersamaan tak akan selamanya
sampainya tak ada air mata

Minggu, 22 Mei 2011

Yang hitam bukan persoalan
kenapa yang putih dipersoalkan...
wajah murung ungkapan nanti
hati lesuh janji tak pasti
nasib hitam tak jadi soal
nasib putih dijejal persoalan
sebab putih nampak dipandang mata
sedang hitam hilang diketiak penjagalnya
putih yang bertanya
dikekang setan mengangkan
jawablah untuk satu rasa
hitam tak membagi tempat
tiada lagi pijakan kaki
hitam bersua mengisi kantong pribadi
bukan gurau teman dikedai kopi
diterima untuk putihmu sisa bencana erosi

Sabtu, 21 Mei 2011

Malam, Kunang

...
Seekor kunang terbang melayang-layang
kerlap-kerlip bercahaya
malam disebuah desa
...
Mata nampak terpesona
saksikan keadaan yang ada
malam pinggiran kota


...
Gardu perempatan tempat sandaran
sang perkasa sinari batinnya
malam ujung jalan


...
Lambat laju pelayaran
musim penghujan
butiran embun jadi teman
malam tempat mencari pegangan


...
Kunang terbang menari-nari
membuat bunga-bunga terpatri
malam pencarian arti

Jumat, 20 Mei 2011

(Bukan) Bunga Namanya

" Aku mengenal baik pribadinya. "

bunga sepatu malu-maludaunnya hijau

warna merah menyala

saat senja meminang kepadanya



" Aura yang mempesona, aku tak luput sekejap memandangnya. "

bukan melati putih

sederhana

merekah anggun senyumnya

hanya ketulusan

 
" Ternyata, si Empunya memilihnya, dari pilihan yang sementara. Syarat tua si Empunya meminangkannya. "

maka mawar disandangnya

melingkupi harga diri

 
yang dikenal

yang terlupakan


" Seandainya dulu ku tak pernah mencintainya. Mungkin semua berbeda dan tak akan pernah ku rasakan luka. Ku sadar, cintanya bukan untukku... "

tak sama janjinya...

keangkuhan emosi, bayang-bayang keinginan memiliki

Rabu, 18 Mei 2011

Menunggu Akhir


Dimana awal
dimana akhir

hanya gerak tanpa suara
daun-daun yang bergoyang
tapi ku mendengar nada dan irama
meskipun terdengar samar
sesuatu yang tak bisa ku rasakan

Dengan angin yang menghembus diudara
seperti memegang sesuatu yang tak ada 
karena hidupku merasa belas kasihan
dari rasa sakitdan rasa takut
sampainya mati baru terlupakan
dan menghilang 

Kapan akhir datang
berharap ku punya daya untuk berdiri
bukan yang terekayasa
bukan yang tersandiwara

Lingkar cayahaya
berputar-putar dipikiran ku
banyak hal tak terkatakan

Bagaimana ku melanjutkan
jika berbohong aku tak tau merasakannya

Ku lakukan untuk sesuatu yang baru
berpegang pada apa yang tak ku punya 

Duduk di sebuah ruangan kosong
bukan untuk masa lalu
ku pikir itu merasa benar tetapi yang benar salah 
semua terperangkap dalam mata badai 
dan mencoba untuk mencari tahu bagaimana rasanya keindahan

Melati Putih

Melati putih dihalaman
enggan berbunga
nampak layu daun-daunnya

Kamboja disampingnya
teman hidup melihat purnama

Melati putih tanahnya kering
berselimut debu
angin bertiup oleh jalanan 

Melati putih ntah kan bersemi
nampak tua
ranting mengring


Kawanku Sendiri Tak Berkawan

Kawanku sendiri tak berkawan
disuasana hati tak bersahabat
ditikam waktu mengolok sesak meradang...
" ...Cahaya rembulan hilang, kepada siapa ku berharap? "

Kawanku sendiri tak berkawan
pada malam yang tak pernah diundang
pada sudut kelam...
" ...Aku hanya sendiri, terasa tajam belati menusuk hati, terhempas ku terjaga dari mimpi pada titik sepi. "

Kawanku sendiri tak berkawan
bahwasanya terasa bayang kemauan
membawa suara kata hati berambisi memiliki...
" Dahaga ku rasa kini, ketika hati rasa dan jiwa serta segala yang tersembunyi mulai bergetar. Bersama malam dan waktu yang mulai berlalu. "

Kawanku sendiri sampai nanti
menyedu kopi menghisap rokok menghembuskan harapan...
" Aku resah seperti ini, bait-bait kata mengasawi gerak hati. Kawan, keindahan berserakan diseret gelombang samudra. Kabut sunyi merayapi, bayangmu pergi melepas pertalian hati. Aku dibuat diam sinar matamu. Kenanganmu belum bisa ku lupakan.
 

Minggu, 15 Mei 2011

Celoteh Kawanku

" Waktu hampir menunjukan anggka dua pagi. Sedang kita hanya duduk berdiam melihat bulan yang cahayanya setengah hilang tertutup awan. "
Kawanku angin malam
menghempas perlahan
dititik lingkar kesunyian.

" Malam semakin larut. Kabut menuturi lembah, saat warnanya tak bisa berbahasa. Pandangan kita ada pada angan, didalam jiwa dan didalam hati. Disaat rasa terjalin antara kita. "
Kawanku gelap malam
dipesisir pantai melepas bebas pandangan
berpeluh lepaskan beban
memaksa memutar haluan.

" Kita menunggu pengantin fajar bermahkota. Bermimpi mewujudkan kenyataan. Dari hidup untuk kehidupan, walau dalamnya kegelapan. "
Kawanku menunggu terjaga
bercumbu putik-putik bunga
malu agaknya...

" Tunggu sampai mendekat matahari, untuk kita tak merasa sendiri. Andainya sama, rubah terang biru langit kelabu dihati. "
Kawanku ku temani
sendiri tak mampu beranjak pergi
tak lagi ada bias pelangi.

Penantian dari mimpi tak kembali
jelas bayangan masih melekat
dari jalan yang tertinggal
dari kisah yang terkenang
menentukan arus arungi mimpi-mimpi...

Sabtu, 14 Mei 2011

Kawanku (Bukan) Teman Sesaat

Kawanku menunggu hujan reda
ditipu keadaan yang tak pernah bersahabat
ditempat mereka mengisi waktu luang...
" Ia (Perempuan) berkata padaku. "Aku menunggu kekasihku datang, jadilah teman sesaatku..." Seketika cerita menjadi api unggun menghangatkan jiwa yang kedinginan. ;

Kawanku masih menunggu hujan reda
dilihat embun berkaca
dilahan sawah petani tua...
" Api unggun sisa bara, lalu berubah menjadi abu. Kehangatannya hanya sesaat. Ia (Perempuan) kembali dipelukan kekasihnya. "

Kawanku resah menunggu hujan tak jua reda
rokok ditangan mulai membeku
ditiup cuaca musim dingin tak pandang siapa...
" Mereka (Perempuan) pernah datang padaku, meminta ku merasakan hatinya. Para kekasihnya tiba, kembalilah mereka dipelukan para kekasihnya."

Kawanku pulang disisa hujan
langkah biasa
suasana senja sederhana...
"Yang tulus tak akan pernah ada, kecuali Dia. Yang menyempurnakan sesaat terhias, tapi tak pernah satu. Yang ku simpan rasa dihati, tak akan ada yang mengerti."

Jumat, 13 Mei 2011

Cerita Seorang Kawan

Cerita seorang kawan ditengah malam.
Mengungkap tanya dikepala yang belum bisa dipahami.
"Aku bertanya kepada diri sendiri, mengungkap isi dibenakku, benarkah ia tulus memilihku?
Aku memang coretan disudut tempat sampah, yang pantasnya dipandang sebelah mata."

Cerita seorang kawan di ujung tikungan jalan. 

Yang sudah terbiasa dicibir kupu menelan madu.
"Aku memilih sendiri, jika berkawan hanya membuatku tersakiti. Sombong bertingkang didalam istana, tak segaris tubuh dekil didalam papan merayap menjerit kelaparan. Tak pantas disandingkan."

Cerita seorang kawan membagi sebatang rokok. 

Yang terakhir.
"Ku memilih ditinggalkan, jika bersamanya adalah lelucon pelengkap deritaku.
Bukan satu alasan persoalan tanpa kasihan, menginjak-injak hak orang sesukanya. Diluar mawar memikat, tak sadar congkak hatinya."

Cerita dari seorang kawan.

Tersisa harapan didepan pintu.
"Semoga suaraku didengarkannya, walau kebodohan menjadi hiburan dan tingkah unggah-ungguh hanya permainan. Ku titip salam untukmu, bukan kata mutiara berupa sajak puisi, teriakan membosankan yang menggema dari goa kemunafikan..."

Dari seorang kawan, untuk kawan tak berkawan.

Kamis, 12 Mei 2011

Sandaran Hati Seorang Kawan

Sandaran hati seorang kawan.
Didekap rokok larut dalam setiap hisapannya...
"Rasa ini terasa terabaikan, kata-kata meluluh patah sebagai sandaran. Sampai saat cerahnya hari terisi kembali.

Sandaran hati seorang kawan.

Tersisa putih abu yang terbuang...
"Rasa ini hanyalah pecundang. Kupu hitam enggan memijak sebab bulir embun hilang. Sepasang merpati bercumbu dibalik awan... iri ku melihatnya."

Sandaran hati untuk seorang kawan.

Terangkum didalam sebuah bungkusan
terselip diatas daun telinga dan terpancar dari sisa air mata.

Sandaran hati untuk seorang kawan.

Meratap relung hidup sepi sendiri,
lepaskan rasa tinggalkan masa dulu yang rapuh
menggugah ketakutan menatap keindahan.

Rabu, 11 Mei 2011

Kabar Dari Kawan

Ditanah hitam itu kakinya dipijakan.
Dikeheningan malam itu lukanya disembunyikan.

Samar bayangannya mengisaratkan.
Dengan lirih air matanya tercurahkan.
Dengan kiasan hatinya mengartikan.
"Oh, kabar hitam... Sesekali mengusik jiwa sesampainya ku terhempas jauh mengingat kenangan. Tajam disudut mata, jiwa keras membentur batuan karang...
Oh, kabar hitam... Sesekali usap wajahku sesampainya hati menentukan pilihan. Patutlah aku tinggal dalam kekosongan, manisnya mimpi jauh-jauh ku lupakan."

Kita Bersama

Biarkan saja aku dalam kesalahanku.
Kesendirian demi keindahan masa depan untukmu

Kuminta benar padamu

karena rasa-lah yang membuat tunggal batinku batinmu.

Biarkan saja aku dosaku dalam hening,
jangan desak aku untuk mengakui kebenaran
karena penderitaan membukakan mataku

dan air mata memberiku penglihatan
serta kesedihan mengajariku bahasa hati

Pedih pilu..
Sedih biar kan aku saja

masih ada ku simpan kebahagiaannya yang akan kita bagi bersama.

Ta Lagi, Ku Mampu

Aku ingin terbang jauh kelangit biru
melupakanmu...

Kan ku coba melayani suasana
disini
sendiri
tanpamu...

Aku kan pergi jauh melangkahkan kaki
disudut matamu
meninggalkanmu
mengabaikanmu
sejauh apa pun itu...

Biar saja begitu adanya
tak akan pernah ada habisnya
...memimpi
sulit ku bisa temukan cinta tersisa
adakah aku didalam hatimu?

Telah ku surutkan ambisi
menarik angan yang jauh terlampui
berharap tetap biar ku tak terhenti

Kau bukan segalanya bagiku

Selasa, 10 Mei 2011

Terdiam waktu dulu kau tinggalkanku
ku rasa berat menyangga air mata
hadirnya serak kata-kata tiada berpaling muka

harusnya ku sadar sakitnya cinta tak terbalas
dan kurasakan betapa rasa luka yang cintanya setengah hati

harusnya tak ku suguhkan cinta
jika akhir sandiwaranya melukai ku

memang ku ingat dirimu
aroma cinta yang memeluk nafasku
hadirkan kehangatan semenandung kalbu
seribu bintang tak sepadan cahayamu

...keterpurukan membenciku
sadar cintaku salah

kini cinta tak lagi seutuhnya
ku anggap kekasih tiada mencinta
ikhlas dilepas cinta setengah hati
walaupun keindahannya sejukan jiwa ini

Ketika Kan Berlalu

Jangan katakan cinta
Adakah yang lebih sepadan darinya
Aliran yang menggenangi jiwa seluas samudra
Cecerannya berhilir kedalam rasa
Ketika kasihnya menepi diludahi ombak mulut petaka

Langit-langit demi langit
Biru, putih arakan awan
Bilapun malam berbintang
Bulan nampak cahaya tak sempurna
Ada juga keindahannya

Langkah terbina pelaksana kata-kata
Melewati jejak luas belantara
Daun muda mengambang terasa tak berdaya
Tak ada batas jarak menepis luka
Dermaga tak pernah nampak diujung mata

Tiadakan cinta dilembah hati
Roboh akibat hujan panas matahari
Jika pun beratap kasih sayang
Dan lantai pasir tetesan air mata
Keberadaannya hanya benalu kasat mata

Tiadalah merasa
Suara hati, isapan jempol belaka

Gelapkan Mata

Ingatan berjarak
kelalaian di ambang jurang
tanpa pembatas penglihatan

Diantara riuh pantai-pantai
diantara sela-sela puncak gunung-gunung
masih banyak jalan yg harus dilalui
sebelum kembali menyatu dengan bumi

Hidup serasa
antara keterasingan masa lalu dan cahaya masa depan
menciptakan kebisuan dan senandung lagu kepedihan
melemahkan jiwa
tanpa mimpi yg terwujud atau ilham pengharapan

Isi hati membahana
didalam derita dan nestapa
betapa lemah dan rentanya hidup
seumpama teriakan bayi di susui ibunya
dalam masa mata merah menyala
hanya meratapi keindahan dari kejauhan

Hati kini merasa
tentang air mata
tentang indah cinta
tentang luka derita
tentang syair dlm kata-kata
atau sujud sembari berdo'a
memohon pengampunan dan pertolongan
dari Yang Maha Kuasa
Pencipta hidup dan pencipta kematian


Jika akhir nanti, menutup mata...

Si Pengecut

Biar kukatakan pada diri sendiri
bahwa diri ini memang pengecut...

Tak sanggup meredam pedihnya sendiri
menyatukan senyawa kelam dihati


Panggil aku pengecut...

Bujuk rayu hanya sia-sia
tak meresap inti sari
jadi ampas basi sarapan ternak
hilang lenyap ntah peduli apa

Aku memang pengecut...

Kesempatan terbuang percuma
liku-liku hanya lintasan pembodohan
tak berisi
tertutup rapat ruang sunyi

Diriku, pengecutnya aku...

Senin, 09 Mei 2011

Keadaan Tak Memihak

Kau tuliskan puisikata-kata tajuk ikrarmu
perlahan ku tenggelam didalam syairmu

Keterbatasan membelenggu
jatuh pijakan keseimbanganku
mundur seperlangkah gerak ragaku
membentur keluwesan rasaku

tak ku kira, kewajaran kosong

berkata resah bimbang
patah hatiku
patah jalanku
patah urung semangatku

goresan kata berlalu
hasrat hati terasa lumut mengganggu
bertanya hati yang ragu
keadaan berpaling dari ku
dari sepeninggalan mu

permainan hidup berselendang menggigil
terhempas terjaga dari sepi yang memanggil

(Dari diri sendiri, untuk diri sendiri. )

Do'a si Ayam Jantan

Ayam jantan berdo'a jam dua malam
memanggil Kiamat untuk segera datang

Dengan mata yang menatap tajam
menggerutu si tikus rumah
tak menyetujui do'a si ayam jantan
sebab ia masih ingin menikmati santapan dunia
berpesta diatas balkon bersama teman-temannya
merambah tajam gigi dan kuku-kuku mereka

Ayam jantan lantang berdo'a
"kiamatkanlah semesta, agar ku lihat surga"

Cepat cepat tikus rumah berlari
membawa segala apa-apa yang ada kini
tak peduli akhirnya nanti
didunia selanjutnya pikir tak peduli

Ayam jantan selesai berdo'a
kepala menuduk dengan tangan mengelus dada
menunggu atas jawaban do'anya