Masih belum lengkap harapan dlm hidup-dlm mengarungi waktu.
Takut berkecil hati, menyempit budi.
Dia bukan pelaut yg mengarungi samudra, ketika hati gelisah karna rindu.
Tak bisa lagi menangkap makna uraian kata yg terpantul membalik ke dadanya. Sperti pengemis yg kedinginan diprotokol kota.
Dia tertunduk melangkah menyingkir tanpa menoleh, hasrat meninggalkan. Ditinggalkan seorang diri didlm pribadi yg sejati.
Dia sekarat di zona waktu manusia, masih bertahan hingga hembusan nafas terakhir.
Sesat, tak sabar merendah hati.
Jiwanya terbuka, terlara terlipur menari-nari bersama dedaunan taman musim semi.
Tak ada jejak kebahagiaan baginya, meski ia bersayap, Sesuatu baginya tak nyata.
Ia temui para penyair, mengarungi tujuh sungai, kehadirannya tak menjadi damai dalam jiwanya, meski ditiup angin.
Hanya tatapan mesra sang bunga, membuatnya bangkit menjauhi keterpurukan.
Di makam orang tuanya, ada do'a orang-orang bernyawa, di sanalah ada benih masa lalu, yg di teteskan oleh madu melati.
Senyawanya menjadikannya ada, bermimpi alam semesta, berlari mengejar matahari.