Powered By Blogger

Minggu, 20 Februari 2011

Dalam Seruang (Fb)

 
Langkah di tebing senja
terbias wajah tak berupa
diambang dinding khatulistiwa
terhenyak terhenti oleh orang tuanya
...
...rindu yg membelit didetak waktu
antara kau, aku dan orang tuamu
memilah engkau dalam hati sendu
...
Tak ada guntur hujan turun meretas
bisaku menulis rindu di atas kertas
tanpa pandang mata melayang seumpama kapas
berbahagialah engkau seolah induk melihat telurnya menetas
...
kemunafikan senja terbias diufuk kata...
meraba langit jingga tak tersentuh oleh angkuh nya lidah yg berucap...
menuliskan tintah hitam pd wajah malam...
percuma... rindu yg kini kian memburam...
Malam ini hujan turun lagi
disaat ku berada dijalanan
melihat kamu pergi
ditelan lampu jalan beriringan
...
...Batu kerikil dihanyutkan arus berlari
tenggelamkanku di dada bumi
bahan bakar masih terisi
biar tak ada penyesalan ku alami


Rokok diapit dua jari
setiap hisapan terasa nyeri
tapi enggan ku berlari
diatas bantal duduk ku berdiam diri
...
...Tak ada untuk mu syair serupa puisi
saat jejakmu berjalan pergi
tinggalkan aku seorang diri
kini biar ku bernyanyi
seumpama katak dimalam hari


rupa nya mlm tlah hanyutkan langkah ku
dibuai semilir rayuan sepi
begitukah...
gelap yg slalu menjadi teman....?

...tanpa nafas ku hirup udara
tanpa melihat ku titi sehelai benang dan berjalan diatas nya
tanpa hati ku rangkai kisah yg semu...
terserak tanpa nyawa...
Air panas ingin ku sedu kopi
setidaknya penghangat malam ini
dari hati tak ingin engkau pergi
bahwasanya engkau begitu berarti
...


penat yg kini terasa menyengat
merapuhkan tulang belulang
namun terasa pahit sudah ku telan air dicawan
dan aku selalu merindukan setiap goresan mu kawan....!
Mentari garang siang ini
silaunya masuk lewat jendela
daun-daun bernada seolah biola digesek angin
tak mau kalah pula burung-burung mencari makan
dari pagi tadi hingga senja nanti
......

hadirnya mentari adalah beban ku
dibelantara kehidupan yg membuta...
dedauan menari tertiup angin sendu tempat berteduh untuk rebahkan pilu dikalbu...

sebatang rokok terapit dimulut bibir
...memandang garis langit yg tak berhujung
mengharap hari cepat berlalu
sekedar menikmati kucuran peluh yg membasahi baju ku....
Di ambang senja menertawakan hari
di pematang sawah berteman sang petani
haruskah angin membawamu pergi
...
Jika malam ku tetap disini
...di tengah bulan ku menanti
purnama penuh menyinari

senja yg menguning adalah ketamakan sang mentari
kecemburuan malam disudut ruang keangkuhan
hening....
jiwa-jiwa pun menari....

...ku genggam purnama dari kejauhan
begitu kecil...
namun menyakitkan
tak ada angin atau ombak yg membawa ku kepantai harapan......