Surai bau tubuh mu tak lagi tercium telanjang
Malam seolah kedokmu bertopeng luka
Bulan berkhianat berdiri di atas cemara
Mengutuk burung betina dalam nasibnya yang malang
Satu-persatu engkau hadapkan
Rupa hati berpancar bunga, anak panah ditangan kiri
Dengan tombak dipucuk daun
Berberita kosong tanpa salam
Awan hitam menyibak bagi burung betina
Rubuh dalam langkah ke tiga tak berbaja
Seperti kelopak bunga, terbuka luka-luka panas mendidih dikepala