ciptakan segumpal bayang
kopi di gelas
tiupkan candu pada wajah yang resah
seberapa banyak yang datang dan berlalu
hanya mimpiku yang tak merasa jemu
langit agaknya murung
rasa enggan turunkan hujan
sebentar turun sebentar berhenti
...
terasa berat beban memuara
di hati tak pernah pasti
sabar menunggukah jawabnya
sedang waktu tak memberi kesempatan
lemparkan rasa ingin tahu
bulan hilang dimana
aku harapkan tak datang
aku jadi cemburu
angin berhembus
sepi datang mengajak bercinta
memburu mengaliri nafas
mengacak-acak kepala
memeluk mengelus dada
mencium membelai dengan gelisah
menggigit dengan amarah
menjilat menghisap di telan duka bahagia
telah lama menghantam bertubi-tubi
merintih di tumpukan nyeri
tak kuat muntahlah air mata di hati
teras nikmat ku rasa malam ini
jiwa terkulai lemas
sampai pagi tak peduli
mungkin masih teramat kurang
esok tumpahkan lagi tenggelamkan mimpi
di hati tak pernah pasti
sabar menunggukah jawabnya
sedang waktu tak memberi kesempatan
lemparkan rasa ingin tahu
bulan hilang dimana
aku harapkan tak datang
aku jadi cemburu
angin berhembus
sepi datang mengajak bercinta
memburu mengaliri nafas
mengacak-acak kepala
memeluk mengelus dada
mencium membelai dengan gelisah
menggigit dengan amarah
menjilat menghisap di telan duka bahagia
telah lama menghantam bertubi-tubi
merintih di tumpukan nyeri
tak kuat muntahlah air mata di hati
teras nikmat ku rasa malam ini
jiwa terkulai lemas
sampai pagi tak peduli
mungkin masih teramat kurang
esok tumpahkan lagi tenggelamkan mimpi