Powered By Blogger

Selasa, 11 September 2012

Jangan hanya diam
telanjangilah aku
agar kau tahu isi hatiku
jilati awan hitam putih
hisap habis hujan yang jatuh dari pelangi
tak kuat lagi amarahku
sungguh aku cinta kau
tak ada lagi gairah jiwa ini
sejari tangan saja enggan menyentuh
tapi bayang-bayang slalu memanggil-manggil
serasa di tampar jika dekat
ketika jauh di tikam dalam
memang tak pernah di kenalkan
hingga akhirnya memang tak pernah di kenal
bersikap selembut kapas mudah terbakar
tak ada sisa arang
bersih ringankan beban
...
seperti lagu cinta yang bercinta
bersyukur dalam bertutur
tak semudah memainkan catur
tak banyak teori
hanya pemahaman dari hati diri sendiri

rasanya ingin tidur saja
sebelum datang rasa lapar
tapi harus minum untuk mengusir rasa lapar

Minggu, 09 September 2012

Kemana ku berjalan
dimana ku berada
kesedihan seolah telah terpatri dalam hati
selalu saja ia mengikuti bayang matahari
juga mata bintang-bintang malam
tak ada tempat
tak pernah sempat mengelak
apa lagi bersembunyi
diamlah di sumber air mata

...
Tuhan mengapa ku habis kata-kata
mengapa hujan dari langit
ketika matahari kembali dari awan
mengapa mendung di balik purnama
ketika bintang selalu memandang

Tuhan Maha Tahu Engkau
hati ini tak pernah dusta
cinta ini Kehendak-Mu abadi
biarlah tak tertaut
redamlah duka hati melara

Sabtu, 08 September 2012

Masih tak bisa berhenti rindu
tiap kali ku lihat gambarmu
tiap itu juga ku menyebut namamu
andainya ku mampu
ingin aku bersamamu
ku tak mampu
memaksakan hasrat bersamamu
membuatku bermimpi tentangmu

andainya kau menjawab cintaku
...
ku sampaikan ini pada orang tuaku
ini bukan pacarku
ini calon mantumu

duka ini membosankan
keluh kesah tak jua pergi
rindu tak sama langit biru
cintaku biasa tak ada lebihnya
Iki opo
rasane koyok di jeduke tembok
di untang-anting ora genah parake
kroso di gecek
terus di uleg
koyok sambel trasi
mbulat-mbulat banyu umup
mongah-mongah mowone sate
ora karuan wernane
ning ora weruh bentuke

Jumat, 07 September 2012

Dalam hati slalu menangis jika ingat dirinya
sulit ku hilangkan bayang wajahnya
seluruh sukmaku lara
namun ia tak pernah merasa
ingin ku matikan cinta
melupakan bayangnya betapa susahnya
gelora samudra tak pernah reda
kejamnya badai menerpa
mendamba bunga terlanjur dipetik orang
namun akhirnya di sia-siakan
...
rasa tak rela ku melihatnya
tapi ku sadar siapa aku ini
tak ingin sakit hati lagi apa lagi menyakiti
andai memang tak cinta
biar kering mendamba
ku harap melupakan cinta kepadanya
walau ku tak bisa berhenti memikirkan dia

Kamis, 06 September 2012

Masih teringat waktu itu
senyum yang mendayu-dayu menyambutku
pandangan sisa hujan dibias mentari senja
pesona wajahnya bayi bergizi ditete sang ibu
ada kamu waktu itu
menuju rumah Tuhan memburu waktu
menempatkan diri
bersamamu waktu itu
ku takuti bayangan diri sendiri
di dekatmu berdiri
...
mengintai senyum sabit di awal bulan Syawal
tak berdayanya aku dalam tatapmu
separuh jalan kita bertemu
kau lempar cahaya kelangit
menutupi kedukaanmu yang penuh sembab
janganlah ada kesedihan di dirimu
karena itu membuat ku menangis
senyum semangat tertawalah kamu
karena itu membuatku bahagia
malam kian berlalu
hadirmu membawa damai
namun kau harus pulang pada ibumu
tak lepas mengikuti punggungmu yang berlalu
senang berjumpa kamu
sedih berpisah denganmu
semoga kan bersua kembali

Aku ingat itu, kamu...

Masih ku ingat senyummu menjabat padaku awal kita jumpa. Tatap mata itu, seperti itukah tatap bidadari kepada lawan jenisnya? Raut wajah itu, sama halnya seperti wajah bayi gemuk dengan gizi yang cukup.
Masih ku ingat itu, kau lipat mukena dan meninggalkan masjid dengan tertunduk. Yang jadi pertanyaan, ada apakah dengan jiwa dan hatimu? Ku tak jadikan soal, pastinya aku bahagia denganmu.
Masih ku ...
ingat itu, lajumotormu tak sungkan membelah malam. Takut akumenawarkan sesuatu kepadamu, tolakmu tak perlu.
Masih ku ingat itu, ku takuti bayanganku sendiri di dekatmu berdiri. Burung hantu mengintip di separuh jalan kita bertemu, di tengah lapang kota di waktu pengamen menghampiri.
Masih ku ingat itu, yang ku takuti terjadi. Setelah kau lempar cayaha kelangit, cepatnya waktu bertemu kau pamit pulang ke pangkuan ibumu. Sedih menjabat tanganmu, bahagia melihat senyummu. Tak pernah ku lupa itu...

Selasa, 04 September 2012

Kemana pun bawalah aku
meski menelan jalan-jalan kota Jakarta
bawalah aku ikut serta hatimu
biar ada korban untuk cinta

lihat mataku, sambut salam untukmu
bacalah hatiku, kabar cita kasihmu

ajaklah aku menikmati hujan
padahal musim kekeringan
...
anggap ini gila
ajaklah aku dalam bercinta
biar saja kau tak cinta
bersamamu aku bahagia

tersenyumlah
untukmu mahkota mawar putih dariku
dosa dan cintaku rindu kepadamu


Senin, 03 September 2012

Dasare wayah bengi
mbok menowo isih biso nyawang mbulan
nalika sumilire angin nggawa kidunge sepi
mbok menowo impenku ketemu
paring bungah saksela-selaing dada
dadosipun sajak kebak sak jroning jembare segoro
nembang sekar lukitaning raga

nanging bulane ndlesep ning mburi mendung
awang-awange peteng ndendet
...
pewayang ilang watesing penyawang
pedhut kebak ngaling-ngalingi netro
dadose mung luh lan getih tekaning lamur
ngegambar katresnan kang ngrerintih
nyesek ning dada
nylesep ning ati
pengangen mokal dadi nyata

Sabtu, 01 September 2012

Dalam aku bimbang
tiada dapat ku membeda
tiada dapat ku memilih
mana harus ku putuskan
pada yang membahagiakan bahagiamu
seakan pijakan tak lagi sudi
cinta tak ada kesempatan berkata
rasa tak percaya dengan putusan hatimu

dalam hati hanyut
...
gelisah di rundung bimbang
aku pasrah pada kerinduan
betapa sesal sari layu di tangan
reda khayalan cinta bersenandung
betapa sakit sesak di dada
mohon ampun untuk cinta-Nya

dalam aku termenung
pesonamu sampai ke sukma
menggugah jiwa hidup bersamamu
tak dapat ku lupakan
walau jauh tetap terkenang
rasa merana dalam asmara
mengerti dosa mencintaimu
maafkanlah jiwa yang tersiksa

dalam aku derita
cinta membuat terlena
lembut debur ombak samudra
sadarkanlah
ku tak mampu
tiada daya ku curahkan ketulusan
cinta hanya angan yang bersemayam
sebelum ikhlasmu...
ku pendam ini dalam hati

masih dalam terluka air mata
getar gejolak tak pernah damai
tak tentu purnama terkenang
kering lidahku sebut namamu
hapuskanlah lukanya hatiku

Ini yang terakhir

Minggu, 15 Juli 2012

redup senja sudah berlalu
rindu padamu melekat di benakku
ya sudahlah ku lakukan seadanya
sabar sebisanya dengan perasaan
ku harap keikhlasan
agar tak sia-sia mimpi sekilas

Kamis, 12 Juli 2012

Cahaya bulan hilang separuh
terlihat lusuh terselip awan berarak
yang basah embun di rumput malam
membeku hati di musim kemarau
berserakan jiwa liar
... manis senyum anak perawan hilang
ada yang tak baik
ada janji surga
neraka di meja judi
ada cinta di hati
cemburu rentan menatap wajah sesama

bidadari memeluk buas gelisah
di tawar tak peduli
air mata tak tahu harus bagaimana

senyum yang manis janganlah menangis

Rabu, 11 Juli 2012

Kekasih jauh dari harapan
dengan luka dalam jiwa tangan ku menggapai-gapai
derita kesepian membuat nyeri menjadi-jadi

amuk sajak tak henti
... ingin menemu akhir dan mula kata-kata
berulang ku eja
berulang dalam do'a
tapi tak sampai pada hakikatnya

tumpas diri mabuk kepayang

Selasa, 03 Juli 2012

Keluh kesahmu tak henti jadi teman
tak bosan-bosan kesetiaan badai menampar
karang karam menahan

Patah tenggelam sekalipun masih ada senyum
ku tahan melawan
ku urai dalam dada
lihat mataku
di sela jalan jelas awan berarak

... Apa di dalam hatimu
mendung yang selalu datang
pilihanmu buta mentari tak membagi

Ku dapatkan pesona mega
hitam nyatakan yang terjadi
tak perlu itu di harapkan
iblis pun enggan

Simak indahmu luruh memperingati
semua yang indah mentah di lidahnya
jemu matanya di baris kata-katamu
di dakwa bengis berai ulang kembali

Ku reguk habis malam sampai surya di kepala
dalam tenggelam terkenang-kenang
ombak bergelombang memanggil-manggil
pandanganku hanyut di telan waktu

Rindumu sama tak peduli
tak berguna puisimu
cinta di buang
mawar dari taman seribu bungamu layu
amblas setitik embun menelan matahari

Batas ambisiku sekedarnya
suci embun jatuh memuara
membayang cahaya matahari
bunga ku sulam di jantung
mencari terang pada ruang ku ingin datang
cinta Tuhan Mulia tumbuhkan warna jiwa

Senin, 25 Juni 2012

Ku mengerti kamu cantik
ku tak tahu harap untuk ku miliki

ini sujudku di hadapmu
di goda rindu tatap wajahmu
berilah senyummu
berilah agar tenang diri ini
ini sujudku tak tenang gelisah
lihatlah dadaku
demikian luka bersama dengan kesah dan gundah
lihatlah mataku
tak habis waktu dengan ratap mengharap tatap
air mata sampaikanlah memuara di samuderamu
ini sujudku dengan rindu yang porak poranda
hati mawar dari taman seribu bunga
demikian remuk redam rindu padamu
inilah sujudku memohon cintamu

Jumat, 15 Juni 2012

Melihat senyummu menyiksa
lelah menyempitkan ruang berkata
lihat apa yang tersisa
hilang teman tak bersisa
upah jerit memaksa
terlintas inginkan hampa
lepas deras alirkan luka derita
kelam puisiku penuh kecewa
tangisi senyummu mataku berkaca
ocehan dan sanjungan lumatkan cerita
sepi gundah lantangkan cinta
hujam hatiku saat terjaga

Selasa, 12 Juni 2012

Salam Puisiku

menunggu esok hari
suramnya wajah hati
tanpa bulan atau suria
seumpama engkau yang tiada
sampai fajar bercahaya berubah senja
ku do'akan kepada Yang Maha Kuasa
esok hari tiada lagi suramnya hati
dari cinta yang terluka namun rindu
walau tercampak biar ku abadi
sambutlah salamku biar kau jauh
terimalah puisiku andaiku tiada

Minggu, 10 Juni 2012

Mungkin semuanya telah kembali ke asal mula duka
mengalir kedalam arus mimpi rindu
seperti di hempas gelombang samudera
begitulah hidup harus di jalani
dengan tanya tak terjawab
tak berjawab dalam benak segala tanya
lelah melangkah ke ujung cakrawala
melangkah ke ujung sepi sendiri
merindu rindu...
getar gemetar dalam diri sendiri
... demikian ritmis perputaran
hujan berhembus angin
diam fatamorgana diujung harap
demikian sunyi menyudut takut
hingga jam berganti detik berhenti
sunyi kan merungkupku dalam mimpiku sendiri

Rabu, 06 Juni 2012

Aku pun mabuk rindu, selarik rindu melesat dari jemariku ketika ku tuliskan di sedinding cahaya cahaya mencahaya berpendar mencahaya cahaya. Aku pun mabuk rindu, seteguk demi seteguk ku tenggak perlahan cahaya. Aku mabuk cahaya igauku cahaya mimpiku cahaya cintaku cahaya. Aku bergelayut di tali semoga tak goyah melemah tangan kukuh memegang cinta. Aku bergelayut di tali semoga tak terpelanting terbanting dilubang nganga. Aku bergelayut di tali memanjat tebing tinggi menuju rindu kasih mencahaya. Belailah aku dengan rindu cahaya-cahaya mencahaya menyilaukan menutup mataku.