Nafasmu sesak seolah terkena asma
berjalan merangkak kau percepat jantung berdetak
bibirmu kering pecah mengelupas
terjenuh lesu wajahmu murung
Hai sang putra...
kau tantang jaman dengan tangan kosongmu
kau ajak beradu waktu untukmu tuju bayang semu
kau setubuhi jalanmu digoa gelap berlumut
Hai sang putra...
persiapkanlah perisai dan pedang ditanganmu berjaga
tegakankanlah wajahmu menatap mimpi yang kau pacu dengan waktu
keluarlah kau dari mulut goamu yang gelap dan tatap cahaya
jejakmu tertinggal sebagai kenangan klasik untuk dilupakan
terhapus bagai istana pasir ditelan pasang surut air laut
Kepadamu sang putra, amanah