Bibirnya menatap kepadaku
senyum yang hancur oleh air mata
tangannya menggenggam ke dadaku
suara yang tertahan dari ratapan
rambutnya menutupi mata dan separuh bibirnya
sedikit basah oleh keringat air mata
seperti membeku tanganku diatas pipinya
serasa tak bisa ku tahankan
seolah ditamatkan ku dekap duka yang menyiksanya
bibir yang menempel di keningnya menjadi pilihanku
seraya mengerat lagi dekapannya
menjadikan dadaku ikut menangis