Powered By Blogger

Jumat, 14 Desember 2012

Anjing malam terbaring dibalik pagar besi berwana hitam. Melihat ia ke depan, keluar dipucuk-pucuk pohon. Lidahnya terjulur menjilati kemaluaannya yang terjepit disudut kenyataan. Matanya berkedip digaruk kaki kanannya yang tertikam jarum waktu yang milingkarinya. Punggung yang menggerus aspal hitamkan beban. Anjing malam berkaca pada kubangan, melihat wajahnya ia tahu itulah minumannya. Makanan di tiap jalan jadi suguhan disela lukanya. Menjajal untuk tetap hidup pada harap yang bertumpuk.