Anjing malam terbaring dibalik pagar besi
berwana hitam. Melihat ia ke depan, keluar dipucuk-pucuk pohon. Lidahnya
terjulur menjilati kemaluaannya yang terjepit disudut kenyataan.
Matanya berkedip digaruk kaki kanannya yang tertikam jarum waktu yang
milingkarinya. Punggung yang menggerus aspal hitamkan beban. Anjing
malam berkaca pada kubangan, melihat wajahnya ia tahu itulah minumannya.
Makanan di tiap jalan jadi suguhan disela lukanya. Menjajal untuk tetap
hidup pada harap yang bertumpuk.