Namamu dalam surat kabar
huruf kapital hitam tebal besar
ironis hatimu terjual
kejujuran kau tawarkan
demi logam rupiah memenuhi kantongan
...
Hukum bagimu mainan
untuk kebebasan
untuk jalan melenggang
tak sadar akar rumput kekeringan
mengais, asin keringat yang tertelan
Merenungkan apa yang menjadi keinginan. Mencari didalam segenap sudut penjuru hati. Apa adanya menerima.
Dapatnya tetapan arah tujuan. Menutup ego berkata harga diri tak terbayar. Sanggup, tak menyalahkan.
Keinginan mewujudkan tak mudah. Bintang tetap menjadi bintang. Bukan mentari yang kadang tertutup awan. Lambat berakhir merelakan kenyataan.
Bersama siapa. Ada cinta. Cerita menaungi asa.
Lepas keinginan. Salah menjadi sesuatu. Salah mengerti. Mungkin bermimpi.
Tak hilang tak lelah. Hingga kembali. Dihati masih terkenang. Dihati terdalam.
Memutar waktu. Sisa hati tak ingin begitu. Dalam hidupku. Kemana pun itu. Sejauh apapun itu.
Merasa damai. Merasa bahagia. Banyak kisah indah. Tentang cinta.
Tiada kesedihan. Tiada air mata. Tiada luka.
Banyak kebahagian. Kisah tentang cinta. Hanya kebahagiaan.
Caraku. Bahasaku. Langkahku. Kata-kataku. Pikiranku. Hidupku. Hingga matiku.
Burung dalam sangkar yg malang
batin menangis hati patah
tiada orang ambil tau nasibmu
duka lara dihatimu
riwayat tertulis penuh dengan air mata
Dia bunga malu tertunduk
melihat pucat warnanya
Burung dalam sangkar yg malang
lepas cincin putih pergi tinggal sendiri
cincin putih tak menyesalkan untuk bertahan
kau tangguhkan kasih sayang tergenggam
Ketika mereka pergi tak pernah ingat apa yang mereka tinggalkan. Ketika mereka pergi seolah lupa apa yang dulu pernah menyentuh mereka. Lupa siapa yang ditinggalkan sebab untuk mereka lupakan. Yang terlupakan kini hanya, ntah apa...
Tertawa mereka berbahagia melupakan yang ditinggalkan. Seolah tiada pernah ada mereka yang dilupakan sebab ditinggalkan.
Maafkanlah kasih tercintta
jika ada salah semasa kita bersama
membuai asmara ditaman jiwa
apa yang kau rasa
aku pun sama merasakannya
tapi apa hendak dikata
takdir Yang Kuasa menuliskan berbeda
Perpisahan bukan kehendak hati
tiada sangka untuk ingkari janji
biar kita dapat berencana
tetapi Tuhanlah yang menentukannya
Ku do'akan agar hidupmu selalu berbahagia
ketika hatiku membawa duka lara
Cinta ku tak akan beku
sampai nanti kau kan ku kenang selalu
Wahai insan yang tercinta
badai derita datang melanda
saat kau jauh entah dimana
tinggalkan aku didalam kecewa
Maafkanlah kasih tercinta
jika ada salah ketika ku ucap kata
dari barisan puisi yang ku tuliskan
tentang hati yang terkulai
pedih didalam dada
putus terkarang
saat kasih mulai membara
Tiada lagi rindu belaian kasih sayang
indahnya mahligai cinta tak akan pernah ada
Masih ada cerita tentamu
ketika waktu perlahan berlalu
tak ada lagi tawamu
yang menghapus sepi dihatiku
Merasa bersalah patut untuk disalahkan
Bukan yang sempurna tak menjadi sempurna
Bertempat dipojok sebab tersudutkan
Tak membahagiakan karena tak bisa
Menyendiri sebab pantas sendiri ...Jangan didekati sebab benalu yang mengkrikiti
Jangan dicintai sebab tak pantas mendapatkan cinta
Tinggalkan biarkan
Cintta...
Bayanganku tentangmu
ku impikan senyum indahmu
ku bahagia mendengar kata-katmu
ku impikan kau memegang tanganku ...dihatiku di jiwaku...
Maafkan aku ini
ketika bayangmu tak dapat ku rengkuh
maafkan aku ini
ketika gelombang rindu menghantam hatimu
maafkanlah aku ini
ketika tiada sesuatu apapun ku lakukan untukmu
Aku orang yang ditimpa sakit bertubi-tubi
hanya kesabaran yang membuat aku bertahan
tapi malam ini rasanya sudah mencapai puncak
ku tak ingin mengenal mereka lagi
yang menjadikan aku persinggahan
kepenatan hati mereka
Harapan lebihku terhadap mereka
nyatanya hanya di balas sekedarnya saja
mereka hanya menyuguhkan mimpi
tanpa memberi sesuatu yang ku ingini
Telunjukku menunjuk pada mereka
bahwa tanpa mereka aku bisa
biar ku hapus segala yang mengikat
baik itu rasa atau apapun
ku tak ingin mengenal mereka lagi
Aku ingin mereka tersentak
aku yang berontak
tak mau lagi menyantap
apa yang mereka suguhkan
sedang aku tak punya pilihan
Biar saja pesta ini bubar
berantakan...
hingga tak ada lagi sisa sedikitpun keindahan
biar saja mereka murka
kita pulang saja!!
berpisah...
Aku ingin menapaki mimpi yang baru
meski bermimpi lagi sekalipun...
Sisi hidupku tak pernah benar
dimataku dimata mereka
yang bukan jadi keinginan hati
seperti yang ku tahu
jiwaku keras membantah ...
Warna kelam tiang sandaran
disudutkan takutku tentang keindahan
kedalaman relung bisu tiada pijakan
hanya ku tahu mensyukuri keadaan
Mungkin kamu sedang berada diranjang tidurmu
mencari kehangatan
memeluk guling berisi kapas
berselimut kain tebal
sebab suasana berudara dingin malam ini...
Mungkin tidurmu telah pulas
menarik mengenduskan nafas
tak sadar aku berdiri diam menghayatimu
wajah ayu masih melekat pada auramu
ruh hilang bermimpi bunga setaman...
Aku takut menyentuhmu
sekedar mengelus lurus rambutmu
takut kamu terbangun atas kehadiranku
biar saja hanya memandangmu
suatu keistimewaan bagiku...
Ijinkan aku rebah disampingmu
mendampingimu ketika yang lain menutup mata
menikmati rasa bungah hati berada didekatmu
sekali ini biarlah ku mencuri kecup dikeningmu
suatu tanda aku yang menyayangimu...
temui aku disini merebah lepaskan penat hari ini...
Kecup keningku cintta dan bisikkan lembut di telingaku ucap selamat malam... dalam pejam mataku ada bayangmu yang selalu ku rindu...
Fikirku tak pernah lepas dari setiap jengkal langkahmu mataku tak pernah lelah menatap bayangmu karena kamu nyata disini, dihati ku bagai hujan di tujuh musim kemarau
mengalihkan pandanganmu dia yang siapa datang bagai bunga cintamu dia yang siapa lidah manis bermadu dia yang siapa mengatakan mencintaimu
dia yang mana sendiri berteman sunyi dia yang mana hilang terbawa angin lalu dia yang mana asa terbang jauh melayang dia yang mana mimpi yang indah hilang Dia, hati siapa jatuh terkulai dia, hati siapa luka pedih didalam dada
Ijinkan aku menggenggam kedua tanganmu tatap teduh matamu menembus jantungmu hingga kau tak mampu mengelak saat ku cium mesra keningmu pejam matamu rasakan aku tinggalkan rindu rasakan aku titipkan kasih tulusku Itu... di kening dan hatimu
Ku peluk hangat tubuhmu dengarlah degub jantungku tidakkah kau maknai dekapnya sebagai sayangku padamu yang sejujurnya ku tak mampu melepasmu
Sungguh ini bukanlah bayangan cinta ini begitu nyata di nafasku pesonamu desir aliran darah ku lembutmu katup dijantung ku
Maafkan aku cintta hatiku yang terantai takdir ragaku yang terpasung gunung cinta hanya singgah sejenak lalu pergi...
belum bisa ku ungkapkan ku selami lebih dalam arti dari makna masa silam dari awal malam hari hingga senja menghampiri langkah tak pernah beranjak dari tempat kini ku berpijak
Ku hanya bisa mengingat masa silam yang mulai berkarat didalam hati masih terasa dan tiada dapat tertutur lewat bahasa mereka-mereka yang pernah hadir hilang lenyap di telan takdir
Aku telah terbiasa disini tak ada lagi rasa benci mungkin ku tak selalu tertawa tapi kasih ku tak pernah lupa lupakan sisi arogan cinta utamakan yang utama diatas segala
Ku melihat didalam anganku ku bayangkan seseorang memegang tanganku ku impikan senyum indah didepan mataku ku upayakan segala daya yang ada dijiwaku tapi ku bukan yang terbaik kerap kali ego emosi yang naik
Tapi hatiku tetap rasakan tapi hatiku masih bisa ungkapkan tak peduli paras cantik tak terlihat mata tak peduli ku tak bisa berkata-kata
Aku masih bisa percaya disudut gelap masih ada cahaya
kutelah pijakan kaki dibumi mimpi hingga tak tau mentari telah beranjak senja dan ku hanya berselimut pekat
Biarlah dalam sepimu bersama gerimis dan sisa surya aku berdendang tentang pelangi bila saatnya memudar kau telah tersenyum memeluk cinta dan melangkah bersama angin
Bersandarlah pada bahuku rabahkan penatmu kan ku bercerita tentang rindu yang tak pernah putus diantara senyum dan rapuh kisahku
Menjagamu dengan hatiku membelaimu dengan tulusku karena aku bukan malaikat yang tak kuasa menahan kasih yang di anugerahkan
Ku tak berani berucap cinta karena aku tak ingin sakit meski kini telah sakit berdusta pada hati hanya ketulusan kasih itu saja, terimalah...
Kepadaa mereka aku ingin berteriak muntahkan rasa yang ada dari mu namun bibirku terkunci takdir
Kamu seperti kertas yang aku bisa menulis apa ssaja dihati mu seperti bayi yang tak kenal dusta
Tak ada bantahan yang berarti dalam ucapmu meng-iya-kan apa yang ku pinta egomu kau bunuh dewasanya kamu...
Biarlah aku menimangmu cinta biar aku memanjakanmu sayang selalu terselip dihatiku kamu...
Bukian kata indah ku suguhkan tak sekedar manis ucapan baik atau buruk yang kau tangkap sejujurnya itu aku... I Love You kasih With all of my heart...
lewat kata-kata yang terucap di antaranya. Nyanyian hati mengalun merdu yang terucap dari bahasa rohani. Melodinya hembusan angin yang membuat dawai-dawai bergetar didalam jiwa.
Apakah bisa memahami burung-burung yang berkicau saat mereka memanggil bunga-bunga? Apakah bisa mendengar bisikan sungai saat ia mericik mengalir? Apakah bisa mengetahui apa yang dikatakan hujan saat ia jatuh diatas daun-daun?
Tapi hati dapat merasakan dan menangkap suara-suara yang bermain didalam perasaan...