Powered By Blogger

Jumat, 22 Oktober 2010

Gurauan Dengan Teman di Fb

Hujan malam ini, biar ku berlari walau rintik menyakiti dadaku, sakitnya masih ku tahan hingga reda.
Tapi, kapan reda aku tak tahu.
Bilapun reda nanti, ku persiapkan jiwa menahan dingin malam ini sendiri, tanpa teman, tanpa kekasih.
Hanya sendiri...
ketika dendang sepi berkumandang,
berkumandang dalam gumam panjang,
lantunkan kesedihan dalam asa mengambang,
akan derita hidup yang jalang...
 
Maka nyanyikanlah dendangmu untukku.
Agar aku menyatu dalam nadamu.

lasta masta masih menempel dibibirku,
asapnya penuhi ruang kamar yang sempit,
diluar...semilir angin berhembus dingin,
tapi disini...dikamar ini gerah menyergap pengap..
 
Tiada kopi, air hujan pun jadi.
Tiada rokok, batang rumput tak jadi soal sebagai pengganti.

ku benamkan kepalai di bantal kumal ku,
yang sarungnya dipenuhi lubang bekas bara rokok ku,
ingin menangis...
tapi menangis tuk apa?
ingin teriak...
...tapi teriak buat apa?
entah...
dan aku hanya menjerit kalut dalam balutan hati yang gundah..
 
Merah putih Marlboro hanya bungkusan.
Lidah mengerang habis makan, ampang.
Gemericiknya air hujan tak mau tenang.
Membawaku larut dalam dinginnya syair malam.

sayup ku dengar pesan kawan,
kadang kita harus menumpahkan airmata demi memaknai indahnya senyuman....
tapi...
aku hanya berusaha tersenyum manis walau hati ini menangis….
 
Terbujur lemas aku.
Kasur berserakan kapasnya, ulah tikus yg serakah.
Aku resah?
Tak tau kenapa..
Aku bimbang,
...mengapa?

Perahu kertas sebagai jalanku kan pulang
menggandengmu melihat sebuah bintang..
Mengais harapan
mengumpulkan kenangan..

akh.... bantal kumal ini basah,
basah atas derasnya keringat yang mengalir di kepala,
otak semakin lemah pada pikir yang mulai lelah,
dan... katakata ku pun terkubur mati.....
 
Esok masih ada mentari...

Kata-kata yg mati, tinggal ukiran syair pada nisan
pendam emosi kedalam harapan
menunduk, ku baca do'a demi sebuah cita, cinta, dan harapan di masa depan..

yaaa.....
tanpa terasa lasta masta telah tersulut kembali,
masih banyak dalam bungkusnya yang berbintang,
asapnya berbentuk bulatan kosong,
tapi lamalama menyerupai kuda yang terbang mengawang...
...
yaaa....
sang bintang masih berkuasa,
sementara sang kuda telah hilang,
kasihan.....

hihihihihihiiiii......
 
Kental air liur ku
pahit rasanya lidahku

Biar ku masuk dalam kubangan hidup yg sejalan
manis, pahit, atau asam biar ku berlayar mengayuh sampan..

akhhh....
kentalnya secangkir kopi ini,
tak mengundang minat ku tuk mereguknya,
karena ku asik dalam bayang asap rokok ini,
yang terus mengawang bersama lamun ku....
 
Iya..
Tak terasa memang waktu berjalan
setadinya ku ingin meminta rokok walau sebatang
tapi, takut aku menyatakan

...Iya..
Malam sudah mulai larut
udara malam bercampur dengan tipisnya kabut
walau pikiran masih sedikit kalut
mimpi-mimpi masih ku rajut..

(hihihihi)

malam semakin beranjak menuju puncaknya,
dan secangkir kopi kental ini telah dingin,
tak terjamah...
bertemankan angin malam yang berhembus di jendela kamar ini...

...ingin ku kirimkan kopi kental ini,
tapi langkah ku terhenti pada detik menitik,
hendak kemanakah ku hantarnya..?
karena di luar hujan mulai turun rintik.....
 
Empat di kali empat sama dengan enam belas
Tujuh di tambah sembilan juga enam belas

Maaf jika tak sempat komentar mu ku balas
maklum isi pulsa yg terbatas
...
hehehe
:D
 

ughhh........... hiks... :(
signal ku terganggu rinai hujan yang datang.....
hujan telan signal ku timbul tenggelam,
bagaikan bumi yang hilang tenggelam...
...hehehehe....
 
Biarkan lah saja hujan, hilangkan gerah yg menyandang,
biarkan hujan turun, saat ku nikmati rinainya ku teringat kampung halaman..