Powered By Blogger

Jumat, 02 Januari 2015

Bagai awan dimusim semi
Akan hari perpisahan
Betapa berat suatu keputusan
Bak pendosa dihari kebangkitan
Memacu kuda di waktu hujan
Pada pagi..
Bagai malam di bulan puasa
Betapa lambat kau datang
Selebihnya tak dapat ku katakan
Selain satu dari seribu

Rabu, 31 Desember 2014

intuisi berbisik pada hati di pagi yang berusia dini
diantara embun yang singgah diujung daun basah
lukisan melintang terang diawal bertabur bintang
ada cerita dibalik lembayung
tentang hidup yang selalu terpaut redup
ia mengalir dan tersirat penat tanpa isyarat

Sabtu, 27 Desember 2014

Sukmaku hilang pada secawan arak
Diruang yang cukup luas untuk berbicara
Tiupan nafas dipagihari
Dari bentangan langit-langit
Memenuhi bejana-bejana kosong
Yang bayangnya bait-bait puisi lahir
Lihat permai rupamu
Dipandang mata dikenang hati

Minggu, 14 Desember 2014

Apa kabar malammu? Malamku telah disekap kerinduan dan dirajam kesenduan rintik-rintik hujan. Semoga ada dunia lain untuk kita bersama.

Sabtu, 06 Desember 2014

Dan kau berbaring di altar pilu bergaun rajutan sepi bermahkotakan angan bertabur sejuta bunga kenangan datanglah siapa saja yang meniti jalan kembali tanah mulai gembur awan berarak berlomba menghapus air matamu suara angin bergegas sebut namamu.

Rabu, 03 Desember 2014

Seekor burung melintas langit kelabu dan menjelma senyummu. Do'aku menguap tertabah menyusun kata dari balik matamu. Bulan menjadi siluet, rintik hujan jatuh dipunggungmu.

Selasa, 25 November 2014

Sejuta langkahnya sia-sia
hanya menjadi ilusi
tahukah kau?
Diantara ada ketiadaan rasa takutnya
berkali jatuh berkali berdiri
tahukah kau?
Jejaknya banyak tinggalkan cerita
biar tak peduli nanti

Rabu, 19 November 2014

Tatkala nuraniku menderu
saat ketika risau mendera
ku terima kenyataan
aku percaya ketika jatuh perlahan
pertemukanlah do'a-do'a saat berjarak
semoga ini keniscayaan
yang berharap setelahnya, meski tipis

Senin, 17 November 2014

Dengarkan petikanku
ketika jendela dibasuh hujan
dari hati yang terenggut
rindu dan hujan menyatu
semakin syahdu suaranya
aku makin bahagia
aku tak terpisah darimu
beginilah aku dengan hati penuh luka
dengan detak jantung punuh darah dan nanah
mawar makin semerbak wanginya
dengarkan petikanku
dengan senyum dari dagu yang tertopang telapak tangan
si putri malu yang mengatup menghantar sisa sisa cahaya

Kamis, 13 November 2014

Aku kata yang berantakan
sering salah dalam memulai suatu hal
tetap setiaku menyusun kata
biar ada gerak atau hentakan ditepian
agar kita tak saling mendiamkan

Rabu, 12 November 2014

Ku lihat diriku, mengenang rasa
kau lembutkan aku
dari kuncup kampung halaman
yang mncari jalan panjang
disudut beranda yang lain
lampu lampu sepanjang sungai
lengkung lurus dan kosong

Selasa, 04 November 2014

Pada satu titik
aku tak ingin mencintaimu
karena aku sudah mencintaimu
kalau pun ada yang aku inginkan
aku ingin menjumpai tangisku pada wajahmu
seyogyanya ada dalam dirimu
kenyataanya ada dialam

Sabtu, 25 Oktober 2014

Ketika ku terjaga aku melihatmu
ketika ku tertidur maka kau bersamaku
indahmu larut dalam pikiranku
membuat hatiku kepayang merindu
didepan matamu ada huruf-huruf yang membisu
jadi terbakar oleh sulut tatapanmu
kau perkara dari cahaya
kau gaduh disetiap irama
kita jumpa mengulas banyak cerita
dan aku memelukmu dengan do'a

Minggu, 19 Oktober 2014

Kedekatan yang melekatkan
sampai padaku menjadi luka
aku tetap dijalanku
seperti gelembung yang mudah pecah
ku biarkan tetap begini
aku hanya menjadi diri sendiri

rindu dan kenangan masih baik-baik saja
segala gerakku tetap mencintaimu

Sabtu, 18 Oktober 2014

aku datang begitu saja
begitu gelap dijembatan kayu
menyelamatkan apa saja yang ada dijiwaku
Aku melangkah pergi
dan dia menatapku
lalu dia hilang bersama angin

# semoga Tuhan tak menjauhkan kita dari-Nya.

Senin, 13 Oktober 2014

Adakah lekuk rahasiamu
sedang purnama bulat sempurna
adakah cahaya lirikmu
pada embun yang polos kilaunya
adakah desah renungmu
sedang burung-burung berkicau dengan bisingnya
aku tertimang-timang alam lelap...

Minggu, 12 Oktober 2014

Syair itu lembut. Rasa perasaan merasakan. Seperti Nadzom dengan rama dan irama. Seperti seribu ayat Alfiyah yang tersusun. Penbaca syair adalah Deklamator. Seperti shalawatan atau burdahan. Dengab syair kita ungkapkan cinta. Dengan syair kita harapkan syafa'at. Syair yang kita baca dengan rasa, juga dipahami dengan akal. Syair, semoga bisa dirasa dan dirumangsa.

Jumat, 10 Oktober 2014

Ada air mata yang tumpah dipusaran
setelah dipersaksikan malam
bulan dan bintang bercumbu
Kau yang lahir dari keleluhuran
sampaikan pada esok
syair telah dikaitkan
seumpama istana dari kertas
ditengah musih hujan

Rabu, 08 Oktober 2014

Ku dipanggil kau dengan banyak nama
luas mu seperti malam
padamlah lilin
tenggelamlah rembulan
lihat aku
raih tanganku
lekas kau peluk aku
Katakanlah seperti para pemimpi
yang suarakan nurani
katakanlah seperti putih pagi
yang damai mutma'inah
aku dengar sepagi ini
aku dengar...
katakanlah seperti suara yang lahir dari jantung para penyair
yang berhalusinasi diambang jendela
dipucuk cemara pada musim yang rusuh
katakanlah seperti perjalanan sebuah do'a
aku dengar diwarung kopi
aku dengar