Powered By Blogger

Selasa, 12 Februari 2013

Apa lagi harus ku katakan
suka duka yang terasa tak pernah terpendam
aku tak mengerti apa yang ku inginkan
begitu banyak warna keindahan
ku reguk rasa berburu sunyi
cuma puisi untuk segores luka
air yang mengalir seperti tangisan bayi
dengan dendam cinta minta digoda
beribu-ribu sajak menaklukan waktu
dengan air mata dan api sebagai melodi
anyaman syairku melahap rindu
dalam ruang sujud memujamu

Sabtu, 09 Februari 2013

Kau jauh-jauhkan keresahan
datang hujan berudara dingin
menderas bergelombang seperti ombak
kau tutup-tutupi luka
agar tak mengalir kepadamu
namun ia mengalir seperti sungai

ia berdenyut menjelma sesukanya
bercanda tertawa siang malam
betapa sebuah pertemuan
berhari-hari diminta

ku datang menghadap bersama mendung
dengan cemas yang membakarku
tak berbatas selalu saja rinduku
garis tanganmu di pojok batinku
tak berkedip menatapku

dimana kamu yang ku dambakan
ku lingkarkan sajak ketika jiwamu kusut
memeluk guling rahasia tak kan berakhir

Senin, 21 Januari 2013

Angin senja selembut wajahmu
mega sewarna asmara
matahari seindah kasihmu
burung-burung bernyanyi
merdu cinta untukmu

langit secerah harimu
bintang seindah senyummu
rindu tertumpah untukmu
merdu cinta untukmu

redup senja berlalu
ku bawa semua tentangmu
betapa ku rindu kasih cintamu
merdu seperti tembang diujung malam
kau dengar dan sadarkan?
tolong rasakan
Dia menatap langitnya
jerit suara luka duka
menderu di atap rumah-rumah
hingar bingar menggenangi jiwanya
dia mencari cahaya melihat dari kegelapan
hilang pandang terang
menenggelamkan mata mereka
keras menghimpit
dibawah langit tanpa cahaya

di atas air dan tanah milik mereka juga
dia bersetubuh dengan waktu
berdesak nafas-nafas bisu
bergeliat di jalan yang licin
angin mengalir ke tubuh-tubuh
menjejalkan mimpi-mimpi
di tanahnya dia tiba-tiba terbangun
hujan datang seketika
menemani senja bermega
dipelataran berdebu

dia coba mengerti meski tak terasa
masih saja terasa sedih
do'a yang rimbun menyejukan
dia diam tak bisa bicara
bintang-bintang menyimpan kenangan
menghangatkan seperti api

Kamis, 17 Januari 2013

Tak seperti awan-awan putih
jika gelap untuk di syukuri
melayang-layang di langit-langit
di satu titik sudut memenuhi angan
kosong...
tak ada apa-apa

aku tertidur
dan disana aku melihatnya tersenyum
dia melambaikan tangan
lalu membalikan badan
ku berkata; "aku mencintaimu, tak perlu kau tahu, tak ada perpisahan hanya ada cinta"

langit gelap memerah
tak ada angin kemarin

Selasa, 15 Januari 2013

Menghangat pada selembar kain
asap tembakau yang mengudara
tersadar aku, kopi tinggal ampas
seperti abu tembakau

lagu country yang mengalun
undang hujan untuk turun
suasana teramat syahdu
menggaet ku ciptakan rindu

terciptalah lamunan
mengingat masa lalu
di iringi melodi akustik
semakin timbul enggan padam

bara tembakau mati
ragu untuk mengulang kembali
warnanya hitam seperti ampas kopi
seperti abu yang terbuang

Rabu, 09 Januari 2013

Langit seperti rapuh
warnanya menua
gelap sepanjang cakrawala
awan berarak turunkan hujan
menggugah ketakutan
terlepas dihempas udara
tertumpuk dalam harap
memudar keindahannya
seperti dibelah-belah

langit seperti marah
warnanya seperti warna api
memantul ke bumi
cacat tanahnya memerah darah
amarah alam tak di jaga
jangan di salahkan
hormati perasaannya
ini ciptaan Tuhan juga

Selasa, 08 Januari 2013

Tentangmu...
dengan apa lagi harus ku lukiskan
hadirnya cintamu tak pernah ada akhir
kasihmu tak pernah padam
begitu kuat hangat yang kau hadirkan

maafkan anakmu timbulkan keluhmu
sesakan dadamu
dalam pandang atas tingkahku
durhakakah aku
tak membuat legamu
berdosalah aku
membangkang ikhlas kembangmu

damai sejati putihmu
senyum nurani sampai ke hati

Sabtu, 05 Januari 2013

Air mata menjadi pena
duka pun menjadi tinta
bergulat dalam jiwa berhari-hari
kepasrahan sebagai mentari pagi
untuk pengorbanan diri

"dosakah jika tak ku turuti ingimu
dosakah jika tak ku turuti bahagiamu..."

pahit terpendam dihati
kecemasan jiwa menyiksa bertubi-tubi
tak ada sedikit tumbuh bibit cinta
kecuali kaktus mengganjal dihati

mampukah seseorang hidup tanpa cinta?

rasanya gelap semua isi dunia
pasrah tercampak tampa mimpi mulia
memberikan mahkota kehormatan tanpa cinta
menggadaikan hidup dengan makan simalakama

#tertulis, yang dimintakan seorang kawan

Jumat, 04 Januari 2013

Sayap malam turun pekat
membungkus alam dalam temaram
langit terasa hiruk
menyebarkan awan putih lembayung
cahaya bulan kadang hilang

embun diambang daun
dengan kilat cahaya kosong
dalam jaring-jaring kabut
yang turun merangkap

Kamis, 03 Januari 2013

Gelap petang kembali membayang
gemericik deru suara hujan
riang bersautan
berbaur dengan jerit hati kesepian
di alur tembang duka tak berkesudahan
basah menari sendiri
dalam sepi

bulir hujan berkilat tajam
dengan jerit pelengkap simponi
mengurai bau harum alami
melepas gaun ketika cahaya menjadi pelurus hati

walau samar adalah kenyataan
impian tak lagi menyilaukan
hujan berarak menyanyi lagi
mengulang irama tari
mengendap wangi kedalam hati

Rabu, 02 Januari 2013

Di waktu itu
di saat ku tatap bola matamu
ku lihat sungging senyummu
ku rasa posisi terpuruknya jiwamu
terselip dalam mata sipit
ketika tawa kecil lahir dari suaramu

Tuhan Maha Menolong
jauhkanlah tempat menetap keburukan
Ya Tuhan Maha Pengasih
limpahkan damai kasih mendalam
telapak yang menutup muka
sesenggukan malaikat meng-Aamiin-kan do'a

sekuntum melati tumbuh cintaku
mekar setia setiap hari
di hati, tanpa dusta nurani

Selasa, 01 Januari 2013

Siapa yang sedang sendiri
menjadi atau mencari
tentang apa yang ada didalam
yang tak terlihat dari luar
cahaya bergelantung
seperti kunang-kunang
bayangan berlarian
mencari arah digelap malam
seperti dongeng
yang bergaun cahaya
dimana air dan tumbuhan
merajut kehidupan
dia menyanyi
merasa sepi
merasa sendiri
dijerat impian
dibatas keinginan

Minggu, 30 Desember 2012

sandarlah dalam jiwaku
eratkan rangkulan tanganmu
biar hilang segala duka
biar tak lagi resah kita rasa
jika duka masih terasa
jika resah masih mendera
tutuplah wajahmu didadaku
eratkan lagi pelukanmu
tenanglah damailah
sabarlah damailah
tinggalakan duka mendera
hilanglah segala resah terasa
kita sambut kasih yang indah
bahagia bersama hangatnya cinta
tananglah damailah sayangku

Selasa, 25 Desember 2012

bunga yang baru mekar
tumbuh segar dipekarangan
warnanya putih kemerah-merahan
muda daunnya hijau menjuntai
dahannya masih rawan patah
karena kepolosannya
yang hanya nuraninya ia ikuti
tanahnya gembur
setiap waktu longsor bisa menjatuhkannya
musim ini angin juga tak bersahabat
badai bisa saja menumbangkan mahkotanya
berjagalah kau bunga
keindahanmu juga manis madumu
Saat di tengah malam jelang pergantian hari
sementara arah tak tau kemana harus berlari
kenyataannya berbeda dengan yang ada
harus alami untuk melangkah bernyanyi
sementara ada rasa yang terjadi
suara detak kecil waktu terus memacu
tak mau berhenti terus mengajak bernyanyi
tak lelah nyanyian nafas meski tak merdu lagi

00:02, Sn 10-12-'12
Dilangit penuh coretan
terlihat kisruh menghiasi
berbuih-buih
ramai menggunjing
mata berkeringat
dari amarah menyampah
coretan langit luntur dihantam guntur
kilat menyambar tebakar asapnya menari-nari
coretan langit hangus hitam gelap
Cinta yang menangis
melayang diawang-awang bebas
akal yang lemah menyelam kelautan indah
sampai nestapa melingkar dileher
karena cinta tak jadi cintanya

Cinta yang menangis
hatinya kosong
melihat kelangit memaki nasib
namanya hanya semu
sedang Tuhannya memberi yang meruah cinta cintanya
tulus-Nya cinta untuk yang dilangit dan bumi

Cinta yang menangis
terpuruk dalam cinta (semunya) cintanya
terombang-ambing diatas cintanya
cinta-Nya pada cinta bersama
dalam suka bahagia
waktu sengsara cinta-Nya ada

Cinta yang menangis
berdirilah sayang
lihatlah sayang, pantaskah cintanya?
sadarlah sayang cintanya semu
sabarlah sayang cinta-Nya ada
kepastian mengambang
keraguan mengendap
harapan melayang
kemana jadi pandu
yang keluar hanya kebosanan
tak ada hiburan

pada samudera sebebas arus
keras berteriak lepaskan beban
menjadi batu karang menunggu ombak

Salam Rindu

Salam Rindu

oleh Ard Ardiansyah pada 5 November 2012 pukul 1:23 ·


Sama seperti kemarin di awal sebelum siang matahari menggelap atau akhir siang hilang matahari lirih menerang.
Segaris senyum hitam sebening mata air didalam lingkaran, ku kenal aku bukan dirinya. Ku dekatkan sebisanya, ia dapat menjauh dengan diam perlahan.
Hujan awal November tak jauh beda yang kemarin, awal akhir matahari hitam gelap pengap tengkurep jiwa yang kering, sumpek. Langit seperti bernarasi, membiru wajahnya haru terlihat kelabu menjadi tabu berlapis-lapis.
Terasakah meski tak terlihat. Yang ku pasti ingat merah muda putih alasnya, hujan reda daun kering berguguran disetiap langkahnya semikan musim berbunga.
Namanya ku panggil tapi tak ku sebutkan kerongkongan gatal tak beriak ludah mengental ingin muntah air mata berdarah hati ku geli.
Lagu Iwan Fals terdengar, "Rambutmu matamu bibirmu ku rindu, senyummu tawamu candamu kurindu." ungkapan hati disahut Bunga Band "Bayangmu selalu terbayang dalam setiap angan, yang tak pernah bisa hilang walau sekejab Ingin selalu dekat denganmu enggan hati berpisah larut dalam dekapanmu setiap saat setiap saat...".
Seperti kata pujangga, cinta yang sedang meraja. Cinta-cinta yang dengan tidak sederhana tak ingin sementara, selamanya ku minta. Sayang, ia semakin jauh tak ku kenal dekat tak ku tahu laku apa lagi membaca guratan kata-katanya.
Aku tak bisa jadi sastrawan dengan ribuan tandingan apa lagi jutaan kritikan ia pasti tak akan membaca karyaku. Hujan enggan berhenti, jadi hambar dan getir langit tak lagi biru namun kelabu.
Ternyata sukar menggambar pelangi ketika halilintar menyambar atau setelah gemuruh badai. Berharap pelangi guratanku terinjak langit hari.
Apalah uraian keadaan ini? Rindu haru biru kelabu.
Didesa ku lihat awal matahari, dikota ku kejar akhirnya, senja. Senja yang merona ketika sisi matahari yang landung tenggelam dicakrawala.
Aku tak mau diam, tak mau jiwaku terjajah. Maka ku nyatakan rasa, "Aku rindu padamu" walau ia diam. Suara Babeh Iwan Fals terdengar "Dan ku akui tanpa kemunafikan ku cinta kau..."
jelang hari berganti sampai tengah malam ini hirup aroma kopi.
Lagit hitam tak lagi biru haru. Tak lagi terlihat segaris senyum tersembunyi dari wajahnya. Masihkah bisa ku temui dirinya walau fajar masih hitam melingkar?
Kuncup telah lama berbunga, ku jaga-jaga tak layu tambahkan semangat baru. Awan berarak putih bukan jingga. Salam rindu pelita cahaya dihatiku tak pernah surut terus berkembang karenamu rinduku.