Powered By Blogger

Selasa, 04 September 2012

Kemana pun bawalah aku
meski menelan jalan-jalan kota Jakarta
bawalah aku ikut serta hatimu
biar ada korban untuk cinta

lihat mataku, sambut salam untukmu
bacalah hatiku, kabar cita kasihmu

ajaklah aku menikmati hujan
padahal musim kekeringan
...
anggap ini gila
ajaklah aku dalam bercinta
biar saja kau tak cinta
bersamamu aku bahagia

tersenyumlah
untukmu mahkota mawar putih dariku
dosa dan cintaku rindu kepadamu


Senin, 03 September 2012

Dasare wayah bengi
mbok menowo isih biso nyawang mbulan
nalika sumilire angin nggawa kidunge sepi
mbok menowo impenku ketemu
paring bungah saksela-selaing dada
dadosipun sajak kebak sak jroning jembare segoro
nembang sekar lukitaning raga

nanging bulane ndlesep ning mburi mendung
awang-awange peteng ndendet
...
pewayang ilang watesing penyawang
pedhut kebak ngaling-ngalingi netro
dadose mung luh lan getih tekaning lamur
ngegambar katresnan kang ngrerintih
nyesek ning dada
nylesep ning ati
pengangen mokal dadi nyata

Sabtu, 01 September 2012

Dalam aku bimbang
tiada dapat ku membeda
tiada dapat ku memilih
mana harus ku putuskan
pada yang membahagiakan bahagiamu
seakan pijakan tak lagi sudi
cinta tak ada kesempatan berkata
rasa tak percaya dengan putusan hatimu

dalam hati hanyut
...
gelisah di rundung bimbang
aku pasrah pada kerinduan
betapa sesal sari layu di tangan
reda khayalan cinta bersenandung
betapa sakit sesak di dada
mohon ampun untuk cinta-Nya

dalam aku termenung
pesonamu sampai ke sukma
menggugah jiwa hidup bersamamu
tak dapat ku lupakan
walau jauh tetap terkenang
rasa merana dalam asmara
mengerti dosa mencintaimu
maafkanlah jiwa yang tersiksa

dalam aku derita
cinta membuat terlena
lembut debur ombak samudra
sadarkanlah
ku tak mampu
tiada daya ku curahkan ketulusan
cinta hanya angan yang bersemayam
sebelum ikhlasmu...
ku pendam ini dalam hati

masih dalam terluka air mata
getar gejolak tak pernah damai
tak tentu purnama terkenang
kering lidahku sebut namamu
hapuskanlah lukanya hatiku

Ini yang terakhir

Minggu, 15 Juli 2012

redup senja sudah berlalu
rindu padamu melekat di benakku
ya sudahlah ku lakukan seadanya
sabar sebisanya dengan perasaan
ku harap keikhlasan
agar tak sia-sia mimpi sekilas

Kamis, 12 Juli 2012

Cahaya bulan hilang separuh
terlihat lusuh terselip awan berarak
yang basah embun di rumput malam
membeku hati di musim kemarau
berserakan jiwa liar
... manis senyum anak perawan hilang
ada yang tak baik
ada janji surga
neraka di meja judi
ada cinta di hati
cemburu rentan menatap wajah sesama

bidadari memeluk buas gelisah
di tawar tak peduli
air mata tak tahu harus bagaimana

senyum yang manis janganlah menangis

Rabu, 11 Juli 2012

Kekasih jauh dari harapan
dengan luka dalam jiwa tangan ku menggapai-gapai
derita kesepian membuat nyeri menjadi-jadi

amuk sajak tak henti
... ingin menemu akhir dan mula kata-kata
berulang ku eja
berulang dalam do'a
tapi tak sampai pada hakikatnya

tumpas diri mabuk kepayang

Selasa, 03 Juli 2012

Keluh kesahmu tak henti jadi teman
tak bosan-bosan kesetiaan badai menampar
karang karam menahan

Patah tenggelam sekalipun masih ada senyum
ku tahan melawan
ku urai dalam dada
lihat mataku
di sela jalan jelas awan berarak

... Apa di dalam hatimu
mendung yang selalu datang
pilihanmu buta mentari tak membagi

Ku dapatkan pesona mega
hitam nyatakan yang terjadi
tak perlu itu di harapkan
iblis pun enggan

Simak indahmu luruh memperingati
semua yang indah mentah di lidahnya
jemu matanya di baris kata-katamu
di dakwa bengis berai ulang kembali

Ku reguk habis malam sampai surya di kepala
dalam tenggelam terkenang-kenang
ombak bergelombang memanggil-manggil
pandanganku hanyut di telan waktu

Rindumu sama tak peduli
tak berguna puisimu
cinta di buang
mawar dari taman seribu bungamu layu
amblas setitik embun menelan matahari

Batas ambisiku sekedarnya
suci embun jatuh memuara
membayang cahaya matahari
bunga ku sulam di jantung
mencari terang pada ruang ku ingin datang
cinta Tuhan Mulia tumbuhkan warna jiwa

Senin, 25 Juni 2012

Ku mengerti kamu cantik
ku tak tahu harap untuk ku miliki

ini sujudku di hadapmu
di goda rindu tatap wajahmu
berilah senyummu
berilah agar tenang diri ini
ini sujudku tak tenang gelisah
lihatlah dadaku
demikian luka bersama dengan kesah dan gundah
lihatlah mataku
tak habis waktu dengan ratap mengharap tatap
air mata sampaikanlah memuara di samuderamu
ini sujudku dengan rindu yang porak poranda
hati mawar dari taman seribu bunga
demikian remuk redam rindu padamu
inilah sujudku memohon cintamu

Jumat, 15 Juni 2012

Melihat senyummu menyiksa
lelah menyempitkan ruang berkata
lihat apa yang tersisa
hilang teman tak bersisa
upah jerit memaksa
terlintas inginkan hampa
lepas deras alirkan luka derita
kelam puisiku penuh kecewa
tangisi senyummu mataku berkaca
ocehan dan sanjungan lumatkan cerita
sepi gundah lantangkan cinta
hujam hatiku saat terjaga

Selasa, 12 Juni 2012

Salam Puisiku

menunggu esok hari
suramnya wajah hati
tanpa bulan atau suria
seumpama engkau yang tiada
sampai fajar bercahaya berubah senja
ku do'akan kepada Yang Maha Kuasa
esok hari tiada lagi suramnya hati
dari cinta yang terluka namun rindu
walau tercampak biar ku abadi
sambutlah salamku biar kau jauh
terimalah puisiku andaiku tiada

Minggu, 10 Juni 2012

Mungkin semuanya telah kembali ke asal mula duka
mengalir kedalam arus mimpi rindu
seperti di hempas gelombang samudera
begitulah hidup harus di jalani
dengan tanya tak terjawab
tak berjawab dalam benak segala tanya
lelah melangkah ke ujung cakrawala
melangkah ke ujung sepi sendiri
merindu rindu...
getar gemetar dalam diri sendiri
... demikian ritmis perputaran
hujan berhembus angin
diam fatamorgana diujung harap
demikian sunyi menyudut takut
hingga jam berganti detik berhenti
sunyi kan merungkupku dalam mimpiku sendiri

Rabu, 06 Juni 2012

Aku pun mabuk rindu, selarik rindu melesat dari jemariku ketika ku tuliskan di sedinding cahaya cahaya mencahaya berpendar mencahaya cahaya. Aku pun mabuk rindu, seteguk demi seteguk ku tenggak perlahan cahaya. Aku mabuk cahaya igauku cahaya mimpiku cahaya cintaku cahaya. Aku bergelayut di tali semoga tak goyah melemah tangan kukuh memegang cinta. Aku bergelayut di tali semoga tak terpelanting terbanting dilubang nganga. Aku bergelayut di tali memanjat tebing tinggi menuju rindu kasih mencahaya. Belailah aku dengan rindu cahaya-cahaya mencahaya menyilaukan menutup mataku.

Sabtu, 26 Mei 2012

Mimpi-mimpi buruk tak henti
air mata menetes di rerumputan
bagai hujan deras menjatuhi tubuhku
air mata yang tarianku tak juga usai
di tari-tai pemujian
... di rindu-rindu kekasih
yang di rindu di rindu waktu demi waktu
di cari di alir-alir darah detak nadi denyut jantung
tak ku jumpa engkau
yang di rindu
gemetar bibir melafadzkan nama
dimana engkau

Selasa, 22 Mei 2012

Wajah-wajah tak berupa menjadi lukisan abstrak
di pasir-pasir pantai hanyut oleh arus gelombang...
Keperihan yang meraja
memagut aksara demikian liar dan nanar
menyimpan rindu berdebu di buku-buku
... yang tak di tuliskan penanggalan
di mana bermula riwayat...
Di padang-padang pemburuan
di rumah-rumah sakit jiwa
di jalan-jalan berlubang
di lubang-lubang pemakaman masal
jiwa yang berteriak-teriak tak henti
di lecut-lecut api yang mencambuk-cambuk...
Harapan timbul tenggelam dalam
jauh-jauh cahaya terpandang
lebur rindu lenyap di tatap mata...

Senin, 21 Mei 2012

Lelah menantang badai
angin menampar pipi
tapi mimpi tak cukup memberi
tapi janji tak cukup menepati

... di mana ujung segala cerita
riwayat para petualang

gemetar rindu menerangi peristiwa
tumpah ruah segala gundah

engkau yang selalu terjaga
ada yang tersendu saat waktu telah menutup
serupa ingatan musim berguguran
beringsut mendekat perlahan

duh... rindu tak sampai lintasan

Sabtu, 19 Mei 2012

Ada lagi jeram yang harus di arungi
ada lagi gelombang yang harus di hadapi
perahu kecil di tengah badai
terombang ambing jeram curam gelombang bandang
akankah jarak akan membawa kepadamu?
...
Pelupuk mata di cium angin
ketika manusia bermimpi kenangan juga kesunyian
menjadi lorong-lorong cahaya di ujung harap
tak tergapai tak usai tangis
kehendak siapa
atau takdir Tuhan

Selasa, 15 Mei 2012

Kekasih dunia memabukanku dengan gemerlap
tapi rasa sakit juga bersarang di sini
gumam do'a diam-diam terlontar
tak tahu dari urat di leherku
semakin lamat di kejahuhan
begitu sayup suara di gigil angin malam
namamu di terbangkang dari pucuk menara
Kian samar demikian sayup cinta memanggil
gemetarkan penuh rindu dalam sunyi sendiri
demikian indah cahaya menyergap kelam
di atas angan menerpa-nerpa

... lelah waktu merutuki nasib sendiri
sesal tak cukup menutup
kesal tak cukup merungkup
segala sunyi adalah mimpi
tajam menikam tak henti

Kamis, 10 Mei 2012

entah mungkin ketiadaan atau segala asal mula persoalan
sebagai ingatan yang kosong
tumpah sebagai tangis pada kesunyian
seperti keheningan hira
ketika Nabi Muhammad menekuri kesejatian hidup
...
ketika kekasih menghembus cintanya kedada
menembus tabir-tabir rahasia wajahnya
tabir cahaya berlapis cahaya
menari dalam lagu rindu yang menghentak-hentak
hingga terbang tak terhingga

jarak dan waktu sebagai liku-liku pendakian
sebagai hakikat makrifat
dengan sayap yang robek dan patah di tengah badai menghempas-hempas ke tebing derita bahagia
sebagai kesunyian yang diterima

Minggu, 06 Mei 2012

adalah Nuh yang menangis dihujan deras mendo'a
meminta ampunan bagi anaknya yang durhaka
adalah Yunus yang lari dari kaumnya
mendo'a didalam perut ikan nun
adalah Ibrahim mendo'a meminta ampunan
... untuk bapak pembuat berhala
adalah aku berdo'a sebagai orang-orang yang telah menzalimi diri sendiri
dari kekalahan diri sendiri
dari goda
dari angan
mimpi yang dikejar sebagai bayang
tiada habis diujung cakrawala