aku datang begitu saja begitu gelap dijembatan kayu menyelamatkan apa saja yang ada dijiwaku
Aku melangkah pergi dan dia menatapku lalu dia hilang bersama angin
# semoga Tuhan tak menjauhkan kita dari-Nya.
Senin, 13 Oktober 2014
Adakah lekuk rahasiamu sedang purnama bulat sempurna adakah cahaya lirikmu pada embun yang polos kilaunya adakah desah renungmu sedang burung-burung berkicau dengan bisingnya aku tertimang-timang alam lelap...
Minggu, 12 Oktober 2014
Syair itu lembut. Rasa perasaan merasakan. Seperti Nadzom dengan rama
dan irama. Seperti seribu ayat Alfiyah yang tersusun. Penbaca syair
adalah Deklamator. Seperti shalawatan atau burdahan. Dengab syair kita
ungkapkan cinta. Dengan syair kita harapkan syafa'at. Syair yang kita
baca dengan rasa, juga dipahami dengan akal. Syair, semoga bisa dirasa
dan dirumangsa.
Jumat, 10 Oktober 2014
Ada air mata yang tumpah dipusaran setelah dipersaksikan malam bulan dan bintang bercumbu
Kau yang lahir dari keleluhuran sampaikan pada esok syair telah dikaitkan seumpama istana dari kertas ditengah musih hujan
Rabu, 08 Oktober 2014
Ku dipanggil kau dengan banyak nama luas mu seperti malam padamlah lilin tenggelamlah rembulan lihat aku raih tanganku lekas kau peluk aku
Katakanlah seperti para pemimpi yang suarakan nurani katakanlah seperti putih pagi yang damai mutma'inah
aku dengar sepagi ini aku dengar...
katakanlah seperti suara yang lahir dari jantung para penyair yang berhalusinasi diambang jendela dipucuk cemara pada musim yang rusuh katakanlah seperti perjalanan sebuah do'a aku dengar diwarung kopi aku dengar
Selasa, 07 Oktober 2014
Dari matamu langit turunkan asmara. Kau curi rindu, aku menjadi kehilangan. Angin membawa sehelai rambutmu ke sabana.
Minggu, 05 Oktober 2014
Biarkan aku memikirkanmu merindukanmu mencarimu dan menempuh jalan
antara khayalan dan kenyataan. Biarkan aku menelusuri kata-kata yang
bisa menampung rasa sayangku kepadamu.
Kamis, 25 September 2014
jauh dari hujan yang diharapkan ku sampaikan lewat angin gunung
ku angankan angin saat sepoi mengusap tangismu dan kibar rambutmu bangkit diatas bukit
pohon pohon pulang keperbukitan menjadi atap bagi tidurmu yang tersenyum
Rabu, 17 September 2014
Setidaknya Tuhan tak mempermasalahkan do'aku yang berulang-ulang. Jika
pun aku gugur dalam memperjuangkanmu, makamkanlah aku dengan layak dalam
kenanganmu.
Selasa, 16 September 2014
Semoga secangkir kopi ini, bisa menjadi do'a yang menghangatkan. Jika tak ada aromamu, kulirik bilik hati yang berhias permata.
Jarak tak terkata, selamanya dua jiwa tak terurai dalam satu sulam
cinta. Jika tanganku tak sampai kepadamu, aku bersujud mencium bumi.
Minggu, 14 September 2014
Harapan selalu datang mendahului pagi dikamarku, dan lelaplah. Kepingan
do'aku sebelum tidur tak pernah terlambat mengantarkannya menuju
kamarmu. Semoga tiap bait do'a tertanam tepat dihadapan Tuhan.
I.
Secangkir kopi ini tak kan pernah membuatku merasa sendirian. Karena
aku terus mempercayainya ada yang membuat kita berharga melebihi
kebahagiaan.
II. Cinta yang menentramkan adalah do'a. Tak
lain, kita saling mendo'akan dalam duka atau bahagia. Do'a ini
sebaik-baiknya aku mencintamu.
Rabu, 10 September 2014
Malam bertirai rembulan. Dari ketika berwarna merah muda hingga menjadi
legam membiru. Entah bagamana ia dilihat atau terlihat, masih kurawat
luka ini untukmu. Ku coba meminjam cintaNya untuk mencintaimu. Cintaku
belajar memahami meski rindu tak mau mengerti.
Tak ada hitam kala mataku terpejam karena dibalik kelopak mataku ada wajahmu yang menjelma dalam pandanganku ku melukis diatas air untuk mengenang garismu ku lempar ciuman pada paras rembulan meski kau tak ada dilembar takdir
Jumat, 05 September 2014
Kemana lagi ku cari cahaya? Tak cukup bagiku melihat lukisan wajahmu. Kalau tak menjadi atap bagi tidurmu yang tersenyum, kemana lagi pulangku malam ini, Kekasih...
"Hidup itu mengolah keluhan menjadi senandung, Senandung penyemangat untuk bertahan dan terus maju. Titi Kolo Mongso."
Jujur pada diri sendiri, bahwa memang diri ini lemah, Kekasih, namun kaulah rindu dari jejak yang ku sentuh...
Rabu, 03 September 2014
Malam menjadi sabit daun salam gugur darimu membuat kesedihan tak teduh Malam yang indah. Bukan karena bintang dan sabit yang cemerlang dilangit, tetapi kenangan yang larut dalam kopi pahit.
Sabtu, 30 Agustus 2014
Namamu tertera pada sebuah nama yang sesekali ingin bertandang kepadamu dan meneriakan kata sepi diambang musim hangatkan hati yang tetap tinggal
namamu akan terhapus oleh sajak-sajak dengan alis yang kian malam dicangkir kopi sebelum akhirnya ditumpas bantal dan guling
Selasa, 26 Agustus 2014
Biarlah rindu menyala diujung daun yang merunduk luruh walau terkadang kejujuran dan kemunafikan ditingkangi irama angin yang bergelombang aku ngilu dilembah suaramu kuteriakan dipadang savana namamu agar lebih luas dari pada kesepianku