Minggu, 12 Oktober 2014
Syair itu lembut. Rasa perasaan merasakan. Seperti Nadzom dengan rama
dan irama. Seperti seribu ayat Alfiyah yang tersusun. Penbaca syair
adalah Deklamator. Seperti shalawatan atau burdahan. Dengab syair kita
ungkapkan cinta. Dengan syair kita harapkan syafa'at. Syair yang kita
baca dengan rasa, juga dipahami dengan akal. Syair, semoga bisa dirasa
dan dirumangsa.
Jumat, 10 Oktober 2014
Ada air mata yang tumpah dipusaran
setelah dipersaksikan malam
bulan dan bintang bercumbu
Kau yang lahir dari keleluhuran
sampaikan pada esok
syair telah dikaitkan
seumpama istana dari kertas
ditengah musih hujan
setelah dipersaksikan malam
bulan dan bintang bercumbu
Kau yang lahir dari keleluhuran
sampaikan pada esok
syair telah dikaitkan
seumpama istana dari kertas
ditengah musih hujan
Rabu, 08 Oktober 2014
Ku dipanggil kau dengan banyak nama
luas mu seperti malam
padamlah lilin
tenggelamlah rembulan
lihat aku
raih tanganku
lekas kau peluk aku
luas mu seperti malam
padamlah lilin
tenggelamlah rembulan
lihat aku
raih tanganku
lekas kau peluk aku
Katakanlah seperti para pemimpi
yang suarakan nurani
katakanlah seperti putih pagi
yang damai mutma'inah
yang suarakan nurani
katakanlah seperti putih pagi
yang damai mutma'inah
aku dengar sepagi ini
aku dengar...
katakanlah seperti suara yang lahir dari jantung para penyair
yang berhalusinasi diambang jendela
dipucuk cemara pada musim yang rusuh
katakanlah seperti perjalanan sebuah do'a
aku dengar diwarung kopi
aku dengar
aku dengar...
katakanlah seperti suara yang lahir dari jantung para penyair
yang berhalusinasi diambang jendela
dipucuk cemara pada musim yang rusuh
katakanlah seperti perjalanan sebuah do'a
aku dengar diwarung kopi
aku dengar
Selasa, 07 Oktober 2014
Dari matamu langit turunkan asmara. Kau curi rindu, aku menjadi kehilangan. Angin membawa sehelai rambutmu ke sabana.
Minggu, 05 Oktober 2014
Biarkan aku memikirkanmu merindukanmu mencarimu dan menempuh jalan
antara khayalan dan kenyataan. Biarkan aku menelusuri kata-kata yang
bisa menampung rasa sayangku kepadamu.
Kamis, 25 September 2014
jauh dari hujan yang diharapkan
ku sampaikan lewat angin gunung
ku angankan angin saat sepoi mengusap tangismu
dan kibar rambutmu bangkit diatas bukit
ku sampaikan lewat angin gunung
ku angankan angin saat sepoi mengusap tangismu
dan kibar rambutmu bangkit diatas bukit
pohon pohon pulang keperbukitan
menjadi atap bagi tidurmu yang tersenyum
menjadi atap bagi tidurmu yang tersenyum
Rabu, 17 September 2014
Setidaknya Tuhan tak mempermasalahkan do'aku yang berulang-ulang. Jika
pun aku gugur dalam memperjuangkanmu, makamkanlah aku dengan layak dalam
kenanganmu.
Selasa, 16 September 2014
Semoga secangkir kopi ini, bisa menjadi do'a yang menghangatkan. Jika tak ada aromamu, kulirik bilik hati yang berhias permata.
Jarak tak terkata, selamanya dua jiwa tak terurai dalam satu sulam cinta. Jika tanganku tak sampai kepadamu, aku bersujud mencium bumi.
Jarak tak terkata, selamanya dua jiwa tak terurai dalam satu sulam cinta. Jika tanganku tak sampai kepadamu, aku bersujud mencium bumi.
Minggu, 14 September 2014
Harapan selalu datang mendahului pagi dikamarku, dan lelaplah. Kepingan
do'aku sebelum tidur tak pernah terlambat mengantarkannya menuju
kamarmu. Semoga tiap bait do'a tertanam tepat dihadapan Tuhan.
I.
Secangkir kopi ini tak kan pernah membuatku merasa sendirian. Karena aku terus mempercayainya ada yang membuat kita berharga melebihi kebahagiaan.
II.
Cinta yang menentramkan adalah do'a. Tak lain, kita saling mendo'akan dalam duka atau bahagia. Do'a ini sebaik-baiknya aku mencintamu.
Secangkir kopi ini tak kan pernah membuatku merasa sendirian. Karena aku terus mempercayainya ada yang membuat kita berharga melebihi kebahagiaan.
II.
Cinta yang menentramkan adalah do'a. Tak lain, kita saling mendo'akan dalam duka atau bahagia. Do'a ini sebaik-baiknya aku mencintamu.
Rabu, 10 September 2014
Malam bertirai rembulan. Dari ketika berwarna merah muda hingga menjadi
legam membiru. Entah bagamana ia dilihat atau terlihat, masih kurawat
luka ini untukmu. Ku coba meminjam cintaNya untuk mencintaimu. Cintaku
belajar memahami meski rindu tak mau mengerti.
Tak ada hitam kala mataku terpejam
karena dibalik kelopak mataku ada wajahmu
yang menjelma dalam pandanganku
ku melukis diatas air
untuk mengenang garismu
ku lempar ciuman pada paras rembulan
meski kau tak ada dilembar takdir
karena dibalik kelopak mataku ada wajahmu
yang menjelma dalam pandanganku
ku melukis diatas air
untuk mengenang garismu
ku lempar ciuman pada paras rembulan
meski kau tak ada dilembar takdir
Jumat, 05 September 2014
Kemana lagi ku cari cahaya?
Tak cukup bagiku melihat lukisan wajahmu.
Kalau tak menjadi atap bagi tidurmu yang tersenyum,
kemana lagi pulangku malam ini, Kekasih...
Tak cukup bagiku melihat lukisan wajahmu.
Kalau tak menjadi atap bagi tidurmu yang tersenyum,
kemana lagi pulangku malam ini, Kekasih...
"Hidup itu mengolah keluhan menjadi senandung, Senandung penyemangat untuk bertahan dan terus maju. Titi Kolo Mongso."
Jujur pada diri sendiri, bahwa memang diri ini lemah, Kekasih, namun kaulah rindu dari jejak yang ku sentuh...
Rabu, 03 September 2014
Malam menjadi sabit
daun salam gugur darimu
membuat kesedihan tak teduh
Malam yang indah. Bukan karena bintang dan sabit yang cemerlang dilangit, tetapi kenangan yang larut dalam kopi pahit.
daun salam gugur darimu
membuat kesedihan tak teduh
Malam yang indah. Bukan karena bintang dan sabit yang cemerlang dilangit, tetapi kenangan yang larut dalam kopi pahit.
Sabtu, 30 Agustus 2014
Namamu tertera pada sebuah nama
yang sesekali ingin bertandang kepadamu
dan meneriakan kata sepi diambang musim
hangatkan hati yang tetap tinggal
yang sesekali ingin bertandang kepadamu
dan meneriakan kata sepi diambang musim
hangatkan hati yang tetap tinggal
namamu akan terhapus oleh sajak-sajak
dengan alis yang kian malam
dicangkir kopi
sebelum akhirnya ditumpas bantal dan guling
dengan alis yang kian malam
dicangkir kopi
sebelum akhirnya ditumpas bantal dan guling
Selasa, 26 Agustus 2014
Biarlah rindu menyala diujung daun
yang merunduk luruh
walau terkadang kejujuran dan kemunafikan
ditingkangi irama angin yang bergelombang
aku ngilu dilembah suaramu
kuteriakan dipadang savana namamu
agar lebih luas dari pada kesepianku
yang merunduk luruh
walau terkadang kejujuran dan kemunafikan
ditingkangi irama angin yang bergelombang
aku ngilu dilembah suaramu
kuteriakan dipadang savana namamu
agar lebih luas dari pada kesepianku
Minggu, 03 Agustus 2014
PUISI Iwan Fals
Guru adalah "MATA AIR" tapi murid adalah sungai-sungai kehidupan
Yang mengalir ke muara lalu ke lautan lepas
Lalu terbang ke awan menjadi butiran air hujan
Yang bisa menyuburkan hidup atau bahkan menimbulkan malapetaka
Banjir yang menghancurkan bahkan mematikan
Lalu menjadi "AIR MATA"
Yang mengalir ke muara lalu ke lautan lepas
Lalu terbang ke awan menjadi butiran air hujan
Yang bisa menyuburkan hidup atau bahkan menimbulkan malapetaka
Banjir yang menghancurkan bahkan mematikan
Lalu menjadi "AIR MATA"
AMBISI - Iwan Fals
Walau menderita
Perjuangan mempertahankan hidup ini penting sekali
Ambisi itu perlu
Asal diri bisa mengontrolnya
Ambisi itu sebagai alat bantu untuk meraih cita-cita di dunia
Ambisi adalah bumbu penyedap
Yang kalau kebanyakan bisa menjadi racun yang mematikan
Perjuangan mempertahankan hidup ini penting sekali
Ambisi itu perlu
Asal diri bisa mengontrolnya
Ambisi itu sebagai alat bantu untuk meraih cita-cita di dunia
Ambisi adalah bumbu penyedap
Yang kalau kebanyakan bisa menjadi racun yang mematikan
Langganan:
Postingan (Atom)