Powered By Blogger

Sabtu, 05 Mei 2012

Ada apa gerangan
dengan waktu yang menyakitkan
di jalan-jalan berdebu
langitmu seperti lebam membiru
seperti ada gerhana bulan
cahayamu tak nampak di mataku

Aku takut bernyanyi
sumbang tak berani menggauli asmara
seperti enggan jika dianggap selingan
... terlenakan hati redupkan purnama nantinya

Terbayang jauh-jauh darimu
untuk apa kesedihan tiada arti
semakin dalam impian dibuai cinta yang lapar
untuk apa di dengar jika tak bermakna
lelah mencumbu menahan luka batin hatimu

Kamis, 03 Mei 2012

Aku menyapamu dalam mimpi yang mengembun
ketika subuh merekah sepi dan nyeri
panas yang bergejolak dibenak juga didada
hingga tiada lagi rahasia
diriku tegak telanjang di hadapmu
...
adakah waktu
adakah ruang
adakah diriku menjengukmu dalam deru
hanya rindu yang sanggup
menahanku padamu
kebisingan ini mungkin melindas segala
tapi tidak padamu

detak jantungku tangis tertahan
tumpahlah tumpahlah...
jarak direntang pembatas adalah khianat
aku menggigil mendapati diri begitu kerdil

hai yang menjadi impian
ku ingin menatapmu selalu
dan selalu...

Rabu, 02 Mei 2012

Dimanakah cahaya matamu
masihkah ada harap dapati manis senyummu

ada khianat membodohi diri sendiri
hendak menipu tatapmu yang menusuk relung hati
...
bawalah aku terbang ke langit
hingga kurasa daging menjerit
bawalah aku ke lorong waktu tak terhingga
hingga tersayat daging melepuh diatas bara

ketika do'a menjelang pagi melucutku
berulang kali ku rasa salah membenci diri sendiri

tahukah kebenaran berada?
hanya senyap...
Sampai kini keinginan tak ada habisnya
kepuasan tak ada ujungnya
pesta telah usai merayakan kekalahan sendiri
helai demi helai terbukalah rahasia

... nafas cahaya yang kau hembuskan ke dada
rentang ruang waktu jua telah lupa
ada rindu menyelinap
bermain dipucuk api

nafas cahaya tinggal jerit sendiri
rasa takut ini datang
siapa lagi yang bisa membangkitkan keberanian
ketika rasa putus asa datang
siapa lagi yang akan menumbuhkan harapan

Engkaulah tempat bergantung
tunjukanlah jalan
berilah kekuatan
berilah ketabahan

Selasa, 01 Mei 2012

Langit hitam menatapmu
jarak juga waktu membentang berliku
jalan ku tak temukan senyummu
coklat tanah hitam langit merindu tatapmu

... pecundang ini lari
sembunyi dalam dengkur mimpi berlari

engkau yang sedang ku tuju
dalam goda dan rayu
gaduh dalam dada dan kepalaku
menyerukan namamu

Senin, 30 April 2012

ku gapai harapku timbul tenggelam dalam
mengendap cahaya di jauh-jauh pandang
di mana pintu-pintu terbuka

mimpiku demikian lapar
saat terasa akan senja
hanya sepi mematri dalam gelisah

menuju ke daki gunung
menyelam ke lautan
... dengan tanya
dengan cemas
dengan harap
dengan mimpi

sunyi mengamuk membandang kegelisahan
badai menghilangkan suar
hilang arah ke mana dayung kan dikayuhkan

gelombang sunyi menghantam dada
pedih sunyi sendiri merindu wajah kekasih

Jumat, 27 April 2012

Hujan selepas tengah malam mengantarkan mimpi tak kasat mata. Ada dilema pada rentang waktu yang berlutut. Lampu mati bersahaja, jelang harapan do'a kesabaran terkubur di kelopak mata

Selasa, 24 April 2012

Kau tahu kelemahan ku
ku tahu ku mendamba mu
kau tak tahu rasa yang mengendap dihati ku
ku tahu ini takdir ku
yang ku tahu ku masih mencoba
ku tak tahu arti senyummu
kau tahu bukan sempurna ku
ku tahu ini hasrat ku
ku tak tahu membuka pintu hatimu
yang ku tahu bersabar untuk mu
seandainya kau tahu aku

Senin, 23 April 2012

"Jika tidak, tak ingin ku terlalu berharap banyak."

"Semua ada maknanya."

"Terang mengapa dia seperti itu? Santunnya terbungkam, kurang ku mengerti."

"Ramah menyanjung hatinya, perasaan tak cukup untuknya."

"Sekarang kata ini terdampar tanpa matahari. Hitam, bukankah putih menyenangkan?"

"Tunggu datang gelap."

Minggu, 22 April 2012

Tak berpihak memang, entah apa isi hati
kelabu, membuatku hidup didalam ilusi
sedikit yang ingin ku rasa, kiranya kau lakukan itu
ku yang sengaja, tak pernah ku sesali
bukan tak ingin, sadar niat bernyanyi
untuk tetap katakan, sewaktu kerutan waktu berangsur berubah

salahkah ku terus berharap, yang sebenarnya dari hati
hinakah, ku tunggu berharap yang terbaik

tak mudah, sedapat mungkin ciptakan rasa
jauh ingin ku, kau tinggalkan mimpi ku
matikan cinta ku
Bintang tidak diketahui, seperti tamu yang tak diterima.
Untuk menguasai keheningan, maaf ada banyak sisi yang tidak ku pahami.
Setiap cangkir teh seperti madu dari bunga, sakitnya terhapuskan.

Kamis, 19 April 2012

20:33 Wib.

"Masih saja kau gosok batu, sampai kapan kan kau temui akhirnya? Sampai lemah tulang-tulang mu mengepal?"

"Rembulan tak dipangkuan, senja tadi menangis tiba-tiba."

"Hati jadi korban keangkuhan cinta, orang biasa menikmatinya dengan kopi. Cinta biar saja jadi dirinya, tak perlu kau paksa tangan tak sampai."

"Ada pesonanya. Mega selatan memerah, diseberang bukit dibali gelap ada mercusuar sentuh aku buang gelisah ku."

"Punyai serupa dengan pemikiran sering kau ucapkan, jalan yang tak sehaluan. Dengan apa sudah kau lalui?"

"Rindu slalu memaksa mencoba, letih menepi, getir redupnya hati ku."

"Jadikan saja kekasihmu, jika kau harapkan sepenuh hati. Tak perlu ada penyesalan."

"Jauh tersimpan."

Rabu, 18 April 2012

23:02 Wib.

"Kenapa diam saja? Tak perlu ditunggu, seharusnya kamu tahu untuk melepaskan pangkuan tangan mu."

"Hujan tak turun lagi. Pucuk cemara bergoyang, siapa tahu ia bisa meniru geraka hujan."

"Masih terlalu dini untuk menyimpulka. Hanya saja kamu hanya diam dibawah cemara, menjadi angin menurunkan hujan yang kamu sengaja."

"Ranting dan akarnya masih cukup kuat sebagai penopang beban. Jika pun tak mustahil, nantinya permata akan jatuh dari ujung daun menggantikan tetesan hujan yang sebenarnya ku tak ingin."

"Do'akan."

"...

Selasa, 17 April 2012

seperti biasa, gelas bekas yang menghangatkat
sungguh kisah kasihnya tak jadi cantik
pengertiannya menggurui
tak tentu manis senyum mu
dapat ku temui, mencoba untuk mengerti
redamkan ambisi
hinakan kita enggan bernyanyi
lekas campakan kaki tak bersepatu
pangku sepi yang membosankan
tak berarti rindu walau kadang peduli

sederhanakan arti
diantara kita, aku bermimpi kau permata
ku rasa kau bahagia

Senin, 16 April 2012

adakah mengerti, kemana arah dan tujuannya
nama yang terintis, syahdu
isyaratnya terlekuk dari bahasa biasa
satu kesan layang mata mempesona
tiada kasih tersurat dilidah anak manusia

dikatakannya telah dikabarkan
balasnya senyum dibalik meja kerja
terlipat dibawah kursi

itulah rasanya
risau hayati hati, arti indah bagimu
betapa ini tetap dijaga

aneh...
kabarnya usai, akhir ceritanya

Selasa, 10 April 2012

Matahari mengintai dibalik jendela bus kota
yang sesekali hilang dibalik pohon-pohon
sorotnya tajam dibaris-baris warna kelam

Roda jalanan ngebut diperjalanan
mengggilas waktu yang mulai sombong
nyiur angin membuat uapanku ngantuk
dengan bimbang dihati berjalan sendiri

Tabir mulai gelap ketika ku temui yang tak pasti
disimpang jalan diakhir pemberhentian

Sampah dan debu menjadi lagu
bangkai tercium busuk
tentu saja menjadi surganya surga
bagi mereka yang tak tahu

Senin, 09 April 2012

Senja hilang beserta hujan
tak kuat alis memangku punggung
air mata bersandar sebelah lengan
goyangkan keinginan
sekar mu wanita idaman

Jumat, 06 April 2012

Ini hidup...
penderitanya dari tunas hingga berbuah busuk
penikmatnya dari akar hingga bunga-bunga

Ini hidup...
dijalani oleh mereka yang merasakan keraguan
sebab kepastian hanya ada dipasar grosiran
di jalani oleh mereka yang merasakan cinta
ketika cinta tak lagi membawa kedamaian

Ini hidup...
terhampar luas keinginan
tentang semua keindahan
ada goresan rasa
ada hasrat ungkapan hati

Ini hidup ku sendiri
dari kenyataan yang pahit
saat senja diamkan keindahan

Rabu, 04 April 2012

hilang akal apa makna katanya
luas cinta disempitkan
satu daratan dari satu arah dibelah-belah

hiburan jadi masalah berbulu
diangkat dari kata yang berbeda
ketika daun meneteskan cahaya
mengalir sampai diujung jemari
tak ada lagi nurani embun pagi

dansa terlihat dekat
dari mata yang tercongkel
iri, menghujam dihulu hati

takut untuk mencium
yang ditinggalkan sinarnya surga
menonton yang menjadi tanda tanya
yang jawabnya pada cinta mereka

Senin, 02 April 2012

Rino tansah gawe loro
ning kene ati sumelar
tak geget nadi ku
ringkeh mentelung lelakon laras ku

Wengi soyo lingsir tondo nyekti ing ati
nyangking gambang dadi pesangone
dadi tondo moto kang ngelingake

Yen langet mendung tak uladi
ora ono merak'e ati