kota palu, gelap gelap gelap... listrik slalu padam, lilin sbagai ganti penerangan, sama halnya lingkup dalam kotakku, gelap gelap gelap... lelah mencari penerang, mengeluhku di peristirahatan, kosong kata ingin mengucap kata, terdiam dalam otak beku tak berfikir.. hadir kilat menyambar pucuk cemara, tumbang sudah tian...g penyangga jiwa, waktumu tak tepat, langkah yg salah, arah yg berlawanan... maaf...
anginmu membisu, airmu begitu tenang, membatu ku tiada daya, ah. keluhku padamu malam, tiada jua kau jawab tanyaku, tiada pula isyarat kau beri padaku.. lihat! lilin tinggal setengah nyawa, mau kau kemanakan sisa asap dan api yg lama membakarnya? lihatlah hatinya. terombang ambing di lautan, tak tau mana tempat dermaga... ia b'sandar. bisumu memaki, diammu berlari, ah. teruskanlah bila itu memang kehendak
bangsat kau setan..
enyah kau dariku..
datangkan bintangku bila kau mampu,...
..
knapa diam?
enyah kau dariku..
datangkan bintangku bila kau mampu,...
..
knapa diam?
bakar saja sepiku, usah kau bawakan anggur yg kan mabukan hatiku....
ingat saat bungamu kau tawarkan..
kau buatku hanyut dalamnya..
kini, tusuk saja beku jiwaku biar kau puas dan biar ku tangisi sendiri nasibku..
kau buatku hanyut dalamnya..
kini, tusuk saja beku jiwaku biar kau puas dan biar ku tangisi sendiri nasibku..
bajingan kau
.....
pecahkanlah kaca di kamarku,
biar tak dapat ku lihat byang kelam di diririku..
pecahkanlah kaca di kamarku,
biar tak dapat ku lihat byang kelam di diririku..