Powered By Blogger

Rabu, 11 Mei 2011

Kabar Dari Kawan

Ditanah hitam itu kakinya dipijakan.
Dikeheningan malam itu lukanya disembunyikan.

Samar bayangannya mengisaratkan.
Dengan lirih air matanya tercurahkan.
Dengan kiasan hatinya mengartikan.
"Oh, kabar hitam... Sesekali mengusik jiwa sesampainya ku terhempas jauh mengingat kenangan. Tajam disudut mata, jiwa keras membentur batuan karang...
Oh, kabar hitam... Sesekali usap wajahku sesampainya hati menentukan pilihan. Patutlah aku tinggal dalam kekosongan, manisnya mimpi jauh-jauh ku lupakan."

Kita Bersama

Biarkan saja aku dalam kesalahanku.
Kesendirian demi keindahan masa depan untukmu

Kuminta benar padamu

karena rasa-lah yang membuat tunggal batinku batinmu.

Biarkan saja aku dosaku dalam hening,
jangan desak aku untuk mengakui kebenaran
karena penderitaan membukakan mataku

dan air mata memberiku penglihatan
serta kesedihan mengajariku bahasa hati

Pedih pilu..
Sedih biar kan aku saja

masih ada ku simpan kebahagiaannya yang akan kita bagi bersama.

Ta Lagi, Ku Mampu

Aku ingin terbang jauh kelangit biru
melupakanmu...

Kan ku coba melayani suasana
disini
sendiri
tanpamu...

Aku kan pergi jauh melangkahkan kaki
disudut matamu
meninggalkanmu
mengabaikanmu
sejauh apa pun itu...

Biar saja begitu adanya
tak akan pernah ada habisnya
...memimpi
sulit ku bisa temukan cinta tersisa
adakah aku didalam hatimu?

Telah ku surutkan ambisi
menarik angan yang jauh terlampui
berharap tetap biar ku tak terhenti

Kau bukan segalanya bagiku

Selasa, 10 Mei 2011

Terdiam waktu dulu kau tinggalkanku
ku rasa berat menyangga air mata
hadirnya serak kata-kata tiada berpaling muka

harusnya ku sadar sakitnya cinta tak terbalas
dan kurasakan betapa rasa luka yang cintanya setengah hati

harusnya tak ku suguhkan cinta
jika akhir sandiwaranya melukai ku

memang ku ingat dirimu
aroma cinta yang memeluk nafasku
hadirkan kehangatan semenandung kalbu
seribu bintang tak sepadan cahayamu

...keterpurukan membenciku
sadar cintaku salah

kini cinta tak lagi seutuhnya
ku anggap kekasih tiada mencinta
ikhlas dilepas cinta setengah hati
walaupun keindahannya sejukan jiwa ini

Ketika Kan Berlalu

Jangan katakan cinta
Adakah yang lebih sepadan darinya
Aliran yang menggenangi jiwa seluas samudra
Cecerannya berhilir kedalam rasa
Ketika kasihnya menepi diludahi ombak mulut petaka

Langit-langit demi langit
Biru, putih arakan awan
Bilapun malam berbintang
Bulan nampak cahaya tak sempurna
Ada juga keindahannya

Langkah terbina pelaksana kata-kata
Melewati jejak luas belantara
Daun muda mengambang terasa tak berdaya
Tak ada batas jarak menepis luka
Dermaga tak pernah nampak diujung mata

Tiadakan cinta dilembah hati
Roboh akibat hujan panas matahari
Jika pun beratap kasih sayang
Dan lantai pasir tetesan air mata
Keberadaannya hanya benalu kasat mata

Tiadalah merasa
Suara hati, isapan jempol belaka

Gelapkan Mata

Ingatan berjarak
kelalaian di ambang jurang
tanpa pembatas penglihatan

Diantara riuh pantai-pantai
diantara sela-sela puncak gunung-gunung
masih banyak jalan yg harus dilalui
sebelum kembali menyatu dengan bumi

Hidup serasa
antara keterasingan masa lalu dan cahaya masa depan
menciptakan kebisuan dan senandung lagu kepedihan
melemahkan jiwa
tanpa mimpi yg terwujud atau ilham pengharapan

Isi hati membahana
didalam derita dan nestapa
betapa lemah dan rentanya hidup
seumpama teriakan bayi di susui ibunya
dalam masa mata merah menyala
hanya meratapi keindahan dari kejauhan

Hati kini merasa
tentang air mata
tentang indah cinta
tentang luka derita
tentang syair dlm kata-kata
atau sujud sembari berdo'a
memohon pengampunan dan pertolongan
dari Yang Maha Kuasa
Pencipta hidup dan pencipta kematian


Jika akhir nanti, menutup mata...

Si Pengecut

Biar kukatakan pada diri sendiri
bahwa diri ini memang pengecut...

Tak sanggup meredam pedihnya sendiri
menyatukan senyawa kelam dihati


Panggil aku pengecut...

Bujuk rayu hanya sia-sia
tak meresap inti sari
jadi ampas basi sarapan ternak
hilang lenyap ntah peduli apa

Aku memang pengecut...

Kesempatan terbuang percuma
liku-liku hanya lintasan pembodohan
tak berisi
tertutup rapat ruang sunyi

Diriku, pengecutnya aku...

Senin, 09 Mei 2011

Keadaan Tak Memihak

Kau tuliskan puisikata-kata tajuk ikrarmu
perlahan ku tenggelam didalam syairmu

Keterbatasan membelenggu
jatuh pijakan keseimbanganku
mundur seperlangkah gerak ragaku
membentur keluwesan rasaku

tak ku kira, kewajaran kosong

berkata resah bimbang
patah hatiku
patah jalanku
patah urung semangatku

goresan kata berlalu
hasrat hati terasa lumut mengganggu
bertanya hati yang ragu
keadaan berpaling dari ku
dari sepeninggalan mu

permainan hidup berselendang menggigil
terhempas terjaga dari sepi yang memanggil

(Dari diri sendiri, untuk diri sendiri. )

Do'a si Ayam Jantan

Ayam jantan berdo'a jam dua malam
memanggil Kiamat untuk segera datang

Dengan mata yang menatap tajam
menggerutu si tikus rumah
tak menyetujui do'a si ayam jantan
sebab ia masih ingin menikmati santapan dunia
berpesta diatas balkon bersama teman-temannya
merambah tajam gigi dan kuku-kuku mereka

Ayam jantan lantang berdo'a
"kiamatkanlah semesta, agar ku lihat surga"

Cepat cepat tikus rumah berlari
membawa segala apa-apa yang ada kini
tak peduli akhirnya nanti
didunia selanjutnya pikir tak peduli

Ayam jantan selesai berdo'a
kepala menuduk dengan tangan mengelus dada
menunggu atas jawaban do'anya

Minggu, 08 Mei 2011

Diluar cinta cinta cita kita harapkan
bukan kedustaan
kepastian yg hanya jadi obrolan

ketika rasa dilempar
keseimbangan jadi tak seimbang
gambaran tingkat pundak menjadi tangisan

menanti dan menanti
sabar sabar dan sabar
menunggulah dijalanan
panasnya mentari panaskan hati
perilaku yg setiap hari kita lakukan

kapan akan datang
jawaban cinta cinta cita
bukan obrolan yg dimuat dikoran harian
Jawablah dengan rasa cinta
keadilan yang menjadi tontonan
permalukan hukummu dimeja pengadilan

lihat cinta cinta cita anak manusia
menangisi tinggi jabatanmu
dimana kau bersembunyi
kami punya malaikat yang selalu mengikuti

KIta Satu

Seiya
sekata
sehati
seirama

senada
seperti harmoni lantunan Iqra'

selangit biru
setiang penyangga
sepijakan tanah
selaut samudra
selingkungan hidup kita bertanah air satu
jangan dipisah-pisah
jangan dibelah-belah

Kini, Waktu Berlalu

Masihkah engkau menunggui hati
hati yang pernah meraskan keberadaanmu


waktu berlalu...
rindu berada dipuncak himalaya
karenamulah pendaki terperosot keduka terdalam
sebab putihmu menipu

ku hisap dalam rokokku
tak rupa syair tentangmu
dari hati yang gelisah
dari otak yang berfikir
faktanya, kemunafikan isi jawaban tanyaku
segumpal dusta sepeninggalan jejak darimu
didalam luka bermuara air garam diranah kenanganku

tangisan anak bayi berlalalu
kini...
kasih sayang dan rindu
kan beku keberadaanmu

"Takkan lagi ada cinta, jika keberadaannya ciptakan luka...

"Jangan tanyakan cinta, karna cinta sendiri tak tau jawabannya...

"Katakan ku jatuh cinta, semata kepada cinta-Nya...

Sabtu, 07 Mei 2011

Terasa Pahit

Berapa banyak kan kau habiskan
makanan lalat didalam tong sampah pinggir jalan
satu persatu kau buka berharap ada sesuap rejeki

Menetes keringat kakimu berjalan
hati gelisah dihempas debu jalanan
terlihat lesu raut wajahmu
kalah oleh tikus selokan
terlihat murung agaknya
kalah oleh kucing berbulu hitam

Nampak sia-sia...
Nampak kelam sisimu
terpojok disudut kenyataan
nampak rapuh kesendirianmu
samar tergambar
nampak surut harapanmu
menuntun diri sendiri
nampak matamu buta
tentang semua keindahan

Terasa menyakitkan...
 
Terasa kian kelam nasibmu
tak pernah terbit matahari dihati
terlihat buram bayanganmu
karena matahari ditutup awan
terlihat iri pikiranmu
memaksa untuk bersyukur

Pahit kau rasakan...

Kamis, 05 Mei 2011

sepeninggal senja

Gelap mata awan sepeninggal senja
karena hati mu yang munafik...
Kaki terbelenggu besi
dipaku tajamnya lidah belati
airnya mengalir kehati
perih rasanya, akan lebih baik jika mati

apakah selamanya kehidupan itu kejam
apakah selamanya kebahagiaan dihantam karang
apakah selamanya akar rumput menjadi bahan ejekan

situasi yang sama gila bibir berteriak
didalam jiwa yang congkak
memelas wajah hari
dengan kepala tanpa pelindung besi baja
dengan tangan tanpa memegang senjata

terlalu munafik jika itu adalah mimpi...

Selasa, 03 Mei 2011

Tulisanmu Meresahkan

Tulisan mu membuat resah
resah hati si pembaca tulisanmu
kata-katanya bagai mata pengawas yang menyala
warnanya tajam mengancam
Tulisan mu di beranda
berunjuk kalimat-kalimat menggertak
menggertak si pembaca tulisanmu
maknanya adalah musuh
musuhnya sipembaca yang resah
tujuannya adalah membidik si pembaca
yang membuat si pembaca resah

Senin, 02 Mei 2011

Kosong Dan Isi

Tak ada ruang kosong yang terisi kekosongan



karena yang kosong tak mengisi kekosongan...


Sedang suatu isi terisi tak kosong


adanya isi membuat kekosongan tak kosong...


Tapi isi terasa kosong terisi kekosongan


karena isi kosong tak mengisi kekosongan...

Hujan Di Semenjelang Sore

Hujan di semenjelang sore
untukmu yang duduk dibangku kayu
mencari kabar pada suara alam
lewat gesekan daun-daun
lewat gambaran dari sebutiran hujan
atau pada awan hitam yang diam menyembunyikan cahaya


Hujan disemenjelang sore
mulai deras berjatuhan
berlari-lari mereka berteduh
semilirnya angin mendekap pada tubuh
menunggu-nunggu reda
lusuh bibir membiru
menatap awan tak berubah warna


Hujan disemenjelang sore
mereka yang bergelut waktu dijalanan
lesu wajah terjenuh
tiada kabar terngiang ia dapatkan


Semenanjung hari yang menikam
menahan hasrat hati yang dipenuhi rasa ragu
tiada cerita
tiada ungkapan
hanya hujan disemenjelang sore

Suara Hati

Terhimpit gelak hujan digelap malam
jutaan tetes bernyanyi
diatas genting menari
bersaut glegar halilintar menyambar

tak terdengar kabar suara hati
suara hati orang-orang yang menangis
suara hati orang-orang yang tertindas
suara hati orang-orang yang kesakitan
sepi terasa hari-hari
kemana, dimana suara hati

tanah berlumut tempat tinggal tumpukan benalu
suara-suara sumbang didalamnya
belajar tentang moral dan akhlak
untuk hidup yang terus dipacu

suara hati bukan dewa
bukan Tuhan tempat meminta
oh... dengarlah suara hati

Minggu, 01 Mei 2011

Kunang - Kunang Di Musim Penghujan

Kunang-kunang dimusim penghujan

 
mendung sebagai teman


baginya keindahan


butir air di atas daun baginya permata






Kunang-kunang terbang


cahaya berkilauan


membuatku iri menyaksikan






Kunang-kunang terbang di hadapanku


menari-nari


mengisyaratkan kepada hati


terasa terpatri


menekan untuk bersyukur


tentang pahitnya kenyataan

Mata Hati dalam Melodi

Ketukan nada jiwa



melodi mega - mega


mata hati tajam merobek halusinasi


mata hati menjerit diasah batu


mata hati membiru hitam


mata hati pasang oleh tangisan






Kalimat puisi tumabang dihilir keringat


melodinya patah dihantam angin sunyi


mata hati buta sebab pangkal akar mengering


mata hati mengecil sebab tersudut kenyataan


mata hati kalah tak sanggup melawan sendirinya






Suara nyayian rapuh


melodi ungkapan kasin sayang


bertumpukan harapan


mata hati menatap alam tentang keindahan


mata hati ditemui hari yang sama


mata hati dibujuk rindu tak bernyawa


mata hati sendiri


mata hati disini


mata hati melepas cinta tak di cintai